Aku tak menyangka, hari itu aku bisa bertemu dengan Bunda Asma Nadia. Pertemuan singkat yang membawa sebuah cerita dan berakhir dengan mimpi yang nyata.
Rabu, 18 Mei 2016
Pertemuan singkat dnegan Asma Nadia
Aku tak menyangka, hari itu aku bisa bertemu dengan Bunda Asma Nadia. Pertemuan singkat yang membawa sebuah cerita dan berakhir dengan mimpi yang nyata.
Puisi
TUHAN, AKU MENCINTAINYA
Oktavia Nuraini Widyasari
Tuhan...
Aku menyukainya
Aku menyayanginya
Aku jatuh cinta padanya
Tuhan...
Andai dia mengetahui
Anganku ingin memilikinya
Aku hanya ingin dia, Tuhan
Aku jatuh cinta padanya
Pada semua yang ada pada dirinya
Pribadi dan sifatnya
Senyuman dan mata indahnya
Semua yang kulihat
Semua yang kudengar
Semua yang kulakukan
Begitu indah karna dia
Jika cinta salah
Jauhkan aku darinya
Jika Kau mengizinkan
Dekatkan aku dengannya, Tuhan
Andai dia mengetahui
Anganku ingin memilikinya
Aku hanya ingin dia, Tuhan
Aku jatuh cinta padanya
Pada semua yang ada pada dirinya
Pribadi dan sifatnya
Senyuman dan mata indahnya
Semua yang kulihat
Semua yang kudengar
Semua yang kulakukan
Begitu indah karna dia
Jika cinta salah
Jauhkan aku darinya
Jika Kau mengizinkan
Dekatkan aku dengannya, Tuhan
Puisiku untukmu
AKU DAN KAMU ADALAH KITA
Malam ini...
Terduduk simpuh d sudut ruang...
Tak ingin mata terpejam tuk bermimpi
Terlintas angan hingga tertulis kata
Saat kita berjumpa berselimutkan lara
Trus bergandeng tangan mengukir cerita,
Indah tawa saat bersama...
Hingga menggantung asa tuk bisa bersatu dalam canda, dalam haru, dalam suka, dalam duka dan dalam tangis - tawa...
Dengan kamu aku ingin bersama, saling mengukir mimpi kita. Saat kedua tangan kita saling begandengn dengan erat tak terpisahkan. Berjalan beriring menuju hari esok tuk wujudkan mimpi yang tlah kita ukir bersama.
Kita lupakan semua yang pernah terjadi dengan kamu kemarin dan yang terjadi dengan aku kemarin, biarlah mereka menjadi penonton kebahagian kita.
Saat kita berjumpa berselimutkan lara
Trus bergandeng tangan mengukir cerita,
Indah tawa saat bersama...
Hingga menggantung asa tuk bisa bersatu dalam canda, dalam haru, dalam suka, dalam duka dan dalam tangis - tawa...
Dengan kamu aku ingin bersama, saling mengukir mimpi kita. Saat kedua tangan kita saling begandengn dengan erat tak terpisahkan. Berjalan beriring menuju hari esok tuk wujudkan mimpi yang tlah kita ukir bersama.
Kita lupakan semua yang pernah terjadi dengan kamu kemarin dan yang terjadi dengan aku kemarin, biarlah mereka menjadi penonton kebahagian kita.
puisi
MAAF
Oleh Rainy Widyasari
Tinggalkanlah aku
Karena aku memang tak pantas untukmu
Aku takut
Semakin dalam perasaanmu padaku
Kau akan semakin terluka
Dan pada saat itu
Aku tahu, akulah orang yang akan paling menyakitimu
Jangan kau bertanya tentang bagaimana perasaanku kepadamu
Karena kau tahu itu
Dan aku tidak akan bisa menyembunyikannya darimu
Oleh Rainy Widyasari
Tinggalkanlah aku
Karena aku memang tak pantas untukmu
Aku takut
Semakin dalam perasaanmu padaku
Kau akan semakin terluka
Dan pada saat itu
Aku tahu, akulah orang yang akan paling menyakitimu
Jangan kau bertanya tentang bagaimana perasaanku kepadamu
Karena kau tahu itu
Dan aku tidak akan bisa menyembunyikannya darimu
Biarkan cinta ini hanya tumbuh dihatiku
Kan kutulis semua dalam lembaran ingatanku
Biarkan cinta ini hanya akan menjadi rahasia
Antara kau dan aku
Maafkan aku jika aku meninggalkanmu
Biarlah aku yang mengalah
Meninggalkanmu
Menyerahkanmu kepada orang yang mampu melindungimu
Karena aku tak akan pernah bisa melakukan itu
Meski kau tahu aku begitu mencintaimu
Jangan pernah membalasnya
Jangan pernah mencintaiku aku
Karena aku memang tak pantas untukmu
Aku akan selalu mencintaimu
Meski aku tak akan pernah mampu memelukmu
Kan kutulis semua dalam lembaran ingatanku
Biarkan cinta ini hanya akan menjadi rahasia
Antara kau dan aku
Maafkan aku jika aku meninggalkanmu
Biarlah aku yang mengalah
Meninggalkanmu
Menyerahkanmu kepada orang yang mampu melindungimu
Karena aku tak akan pernah bisa melakukan itu
Meski kau tahu aku begitu mencintaimu
Jangan pernah membalasnya
Jangan pernah mencintaiku aku
Karena aku memang tak pantas untukmu
Aku akan selalu mencintaimu
Meski aku tak akan pernah mampu memelukmu
Hari Buku Nasional 17 Mei
Bagi yang belum tahu, tanggal 17 Mei kemaren di peringati sebagai Hari Buku Nasional. Ayo, sebagai generasi muda kita terapkan Masyarakat yang sadar baca. Pada Maca Buku yuh?. Buku apa yang sudah kamu baca hari ini ?
Contoh Skrip pembacaan berita
Saya Oktavia Nuraini Widyasari saat ini berada di tengah alun-alun purwokerto. di tempat saya berdiri sudah ada 20.000 audience dari Kabupaten Banyumas dan sekitarnya yang ingin menyaksikan secara langsung acara Mata Najwa. Tema yang diusung kali ini adalah Bagimu Negeri. Bintang tamu pada acara kali ini ada Gita Gutawa, Endang Soekamti, Bupati Banyumas, Bupati Tegal dll. Sorak sorai penonton sudah mulai terdengar. Sekian laporan dari saya.
Cerpen, tema : Bahaya Merokok
Evan
Di bawah matahari
pukul satu siang, Evan berjalan menyusuri jalanan tikus yang setiap
saat ia lewati sepulang sekolah. Anak lelaki itu sesekali memandang
matahari yang menyilaukan mata. Tubuhnya sedari tadi telah dibasahi
oleh air keringatnya, sesekali ia mengusap dahinya yang berkeringat.
Kerongkongannya sudah tidak tahan lagi, air minum yang dibawanya dari
rumah tadi sudah habis. Bocah laki-laki itu kali ini tidak
seberuntung hari-hari kemarin. Kadang kala, saat matahari menyengat
kulitnya, tukang es di jalan tikus itu menjamur, Evan bisa leluasa
untuk membelinya. Namun, keberuntungan kali ini tidak berpihak
kepadanya.
Langkah kakinya
menyusuri jalan tikus itu kian dipercepatnya. Rasanya ia ingin cepat
kembali ke rumahnya, bayangan air minum di kulkas telah mengusik
pikiran. Evan menelan ludah. Tak selang berapa lama, kedua kakinya
saat ini telah menapak di dalam sebuah rumah, rumah orang tua Evan
tentunya. Dilepaskannya sepatu beserta kaos kaki yang ia kenakan.
Evan berlari ke arah dapur, dan di tenggaknya satu botol air mineral
dingin.
Kekosongan rumah
saat itu ia hiraukan, ia hanya berpikir tentang tenggorokannya yang
sudah berdemo sedari tadi. Setelah menegak satu botol air mineral,
Evan kembali ke kamarnya. Direbahkanlah tubuhnya.
Satu jam... Dua
jam... hingga tiga jam berlalu mata Evan belum terbuka, ia masih
hanyut dalam bunga tidurnya. Lima menit kemudian, suara berisik
membangunkannya. Telinganya tadi mendengar percakapan tiga lelaki dan
disertai tawa yang menggelegar hingga frekuensinya terdengar sampai
ke telinga Evan. Evan membuka mata. Dibukanya pintu kamar, asap-asap
rokok sudah menyelimuti area depan pintu kamar. Evan terbatuk. Evan
berusaha mengusir asap-asap itu pergi, asap-asap itu menghalangi
jalan. Evan ingin melihat siapakah yang merokok hingga asapnya sampai
di depan pintu kamarnya. Jikalau ada tamu, sudah pasti berada di
ruang tamu, dan jarak ruang tamu dengan kamar tidur Evan cukup jauh.
Melewati empat kamar tidur, satu ruang makan, baru sampai di kamar
tidurnya.
Evan mendekati arah
suara laki-laki yang sedang bercakap-cakap itu, suara tawa kian
memekak telinganya. Ternyata setelah diselidiki dilihatnya Ayah Evan
bersama dua orang tamunya. “Eh van, sudah bangun kau rupanya?”
logat batak ayahnya terlihat jelas. Evan tersenyum simpul.
“Perkenalkan ini bang Ali dan satunya lagi Pak mukhlis. Dia rekan
kerja ayah.” Evan memandangi tamu ayahnya, dahinya berkerut. Evan
tak suka melihat pemandangan seperti ini. Rumahnya kini tertutup oleh
asap rokok. Hanya seulas senyum ia keluarkan untuk kedua rekan
ayahnya. “Evan masuk dulu yah.”jawab Evan.
Evan lalu kembali ke
kamarnya, dadanya sesak. Iya, bocah laki-laki itu memiliki seorang
ayah yang sangat aktif merokok, bukan hanya ayahnya saja, namun
lingkungan sekitar tempat tinggalnya sebagian perokok aktif, dan
sebagian besarnya adalah perokok pasif. Bukan seperti ini hidup yang
Evan inginkan.
Lingkungan tempat
tinggalnya saat ini banyak yang menjadi perokok. Dalam pelajaran di
sekolah, Evan diajarkan tentang bahaya merokok. Evan tahu persis,
bukan perokok aktif yang kemungkinan hidupnya sedikit karena
paru-parunya hancur oleh asap rokok. Tapi sebaliknya, perokok
pasif-lah yang menjadi korban, bahkan bisa di bilang korban terparah.
Ini bukan siapa yang menghisap, tapi ini masalah efek asap yang
dikeluarkan oleh penghisap dan menular oleh orang yang tidak
menghisap. Satu banding seribu bila dibandingkan.
Evan bukanlah
seorang perokok aktif, seperti ayahnya dan orang-orang lingkungan
sekitar rumahnya. Evan bukanlah tipikal orang yang mudah tergiur dan
polos. Ia sering ditawari rokok, namun menolaknya, karena Evan takut
seperti tetangganya.
Satu minggu yang
lalu, tetangganya yang masih seumuran, meninggal dunia. Dokter
memvonisnya mengidap kanker paru-paru, namanya Andre. Dia bukan
perokok, sama seperti Evan. Namun, Andre, juga menghirup udara yang
sama seperti Evan. Udara yang dipenuhi oleh asap-asap nakal.
Kata ayahnya “Bukan
anak laki kalau ia tidak suka rokok.” Evan tak sependapat dengan
ayahnya, menurutnya “Anak laki-laki yang tidak merokok itu baru
namanya laki-laki sejati. Laki-laki sejati adalah laki-laki yang bisa
menjaga kesehatannya.” begitu katanya.
Evan pernah
dikucilkan oleh laki-laki seumuran di lingkungan tempat tinggalnya,
karena ia tidak mau merokok seperti mereka. Evan tak ambil pusing
soal itu, yang terpenting bukan “jantan” atau tidaknya, tapi
kesehatanlah yang utama.
Sampai saat ini,
Evan masih kekeh dengan pendiriannya, dia menolak saat siapapun
menawarkan rokok kepadanya. Evan yang sayang dengan dirinya.
Dia adalah Inspirasiku
Dia adalah Inspirasiku
Bercerita tentang Najwa Shihab dalam acaranya yang bagi seorang jurnalis adalah acara yang penting. Bisa di bilang menjadi pelopor. Najwa shihab adalah salah satu inspirasiku berada di dunia jurnalis ini. Aku senang karena waktu Meet n Greet kemaren Kamis, 14 Mei 2016 di Fakultas Fisipol Unsoed Purwokerto aku bisa bertemu dengannya.Buku yang aku pegang itu adalah perjalanan Mata Najwa selama 5 tahun terakhir. Aku bisa belajar banyak mengenai dunia jurnalis.Terimkasih mba Najwa Shihab, Kamulah inspirasiku.
Bercerita tentang Najwa Shihab dalam acaranya yang bagi seorang jurnalis adalah acara yang penting. Bisa di bilang menjadi pelopor. Najwa shihab adalah salah satu inspirasiku berada di dunia jurnalis ini. Aku senang karena waktu Meet n Greet kemaren Kamis, 14 Mei 2016 di Fakultas Fisipol Unsoed Purwokerto aku bisa bertemu dengannya.Buku yang aku pegang itu adalah perjalanan Mata Najwa selama 5 tahun terakhir. Aku bisa belajar banyak mengenai dunia jurnalis.Terimkasih mba Najwa Shihab, Kamulah inspirasiku.
I LOVE JOURNALIST
Hujan malam ini tak menghalangkan niatku. Berawal dari niat. Ini waktu di backstage mata najwa kemarin Jum'at, 15 Mei 2016. Walaupun hujan mengguyur dengan begitu derasnya, sebagai seorang wartawan itu bukanlah hal yang harus ditakuti. Hujan tak menghalangkan semangatku untuk terus bisa mendapatkan informasi secara faktual, aktual, dan terpercaya. Pengorbanan ini hanya tertuang dalam dua lembar artikel besar, memang tak sebanding. Tapi inilah bagian dari resiko pekerjaan seorang wartawan. :) I love Journalist!
Setelah reportase bersama gita gutawa
Percaya pada mimpi-mimpimu, mimpi itu bisa jadi kenyataan. Tiada sesuatu yang mustahil di dunia ini. Ini juga berawal dari mimpi yang kutulis di secerca kertas. Ini bukti nyata. Mimpi+ usaha = keberhasilan dan kepuasan. Love youre dream, you can catch it !
Jurnalis Mata Najwa Goes to Purwokerto
Kepuasan terletak pada usaha. Bukan pada hasil. Usaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki...:)
Kamis, 17 Maret 2016
Minggu, 28 Februari 2016
Untuk Kalibiru, Jogjakarta
Untuk Kalibiru Jogjakarta
Aku berterimakasih kepada Tuhan
menciptakan Senja hari ini.
Senja di Kalibiru, jogja.
ketika kedua pasang mata saling beradu-padu.
diatas pohon : rumah pohon.
sebuah kisah baru kutuliskan diatas diaryku
tentangmu...
Aku berterimakasih kepada Tuhan
menciptakan Senja hari ini.
Senja di Kalibiru, jogja.
ketika kedua pasang mata saling beradu-padu.
diatas pohon : rumah pohon.
Menyiratkan secerca harapan.
aku bersyukur
hari ini Allah masih menyisakan waktu hidup untukku
aku masih bisa melihat keindahan-Nya.
melalui sepasang bola mata ini.
Dan...sebuah kisah baru kutuliskan diatas diaryku
tentangmu...
Untuk "DIA"
Sajak kecilku
Masih teringat dibenakku
Cerita kita: aku dan kamu
akan kusimpan namamu di relung hatiku
walau jarak memisahkan
tak bisa mematahkan semua yang terukir tentang kita
Di kota ini. cerita kita semua terukir dengan baik
Terimakasih Semarang.
Masih teringat dibenakku
Cerita kita: aku dan kamu
akan kusimpan namamu di relung hatiku
walau jarak memisahkan
tak bisa mematahkan semua yang terukir tentang kita
Di kota ini. cerita kita semua terukir dengan baik
Terimakasih Semarang.
~Semarang, 15 Februari 2016~
Aku dan Mimpiku
Aku dan mimpiku
Mimpi
Jangan kamu abaikan dia
biarkan mimpi itu menggantung di atas tembok dinding kamarmu.
Sajak Kecilku ini kutulis bersama mimpi
Duta?
aku pernah
bermimpi itu
dan kau tahu
dulu itu hanya
coretan di kertas
tapi saat ini?
Duta Perdamaian dan Kerukunan
antar umat beragama Jawa Tengah perwakilan dari Kabupaten Banyumasdan kau tahu?
aku mendapatkan gelar itu.
terimakasih tuhan
untuk coretan mimpi ini:)
Kamis, 11 Februari 2016
Dia adalah sahabatku (diary)
Buku adalah sahabat orang-orang berilmu. Saat mereka
berdiskusi dengan bukunya, mereka diam-diam mengagumi dan mendoakan penulisnya.
buku
adalah sahabat orang-orang berilmu. Saat mereka berdiskusi dengan
bukunya, mereka diam-diam mengagumi dan mendoakan penulisnya. - See more
at:
http://www.bijakkata.com/2013/07/Kumpulan-motivasi-kata-mutiara-bijak-Penulis-Inspirasi-menulis.html#sthash.DSlE7snC.dpuf
buku
adalah sahabat orang-orang berilmu. Saat mereka berdiskusi dengan
bukunya, mereka diam-diam mengagumi dan mendoakan penulisnya. - See more
at:
http://www.bijakkata.com/2013/07/Kumpulan-motivasi-kata-mutiara-bijak-Penulis-Inspirasi-menulis.html#sthash.DSlE7snC.dpuf
buku
adalah sahabat orang-orang berilmu. Saat mereka berdiskusi dengan
bukunya, mereka diam-diam mengagumi dan mendoakan penulisnya. - See more
at:
http://www.bijakkata.com/2013/07/Kumpulan-motivasi-kata-mutiara-bijak-Penulis-Inspirasi-menulis.html#sthash.DSlE7snC.dpuf
Kamis, 04 Februari 2016
Cerpen II
Kepingan yang hilang
Mentari
kini sudah mulai menampakkan dirinya di atas langit Ibu Pertiwi. Siluetnya
sudah menghilang sedari tadi. Titik-titik embun yang membasahi dedaunan sudah
menghilang entah kemana.
Di
dalam kamar Fazaya, jam menggantungkan angkanya. Jarum panjang tepat berada di
angka tujuh, dan jarum panjang tepat menggantung di angka dua belas.Jam bulat
bermotif polkadot dengan warna putih berdegradasi merah jambu ini berdering.
Deringnya yang cukup keras tak mampu membangunkannya.
Mamah
Fazaya membuka engsel pintu kayu bercat merah muda. Kepalanya melongok isi
kamar. Ia melihat anak gadisnya yang masih terlelap di kasur kamarnya dengan
sprei yang bergambar Menara Eiffel. Mamah fazaya berjalan menuju dalam kamar,
ia hanya menggelengkan kepalanya.
Mulutnya
terus berdecak.
Mamah
fazaya menuju ke jendela kamar anak gadisnya. Ia membuka tirai kamar yang
berwarna pink polos ini.
“Fazaya...
bangun nak. Sudah siang ini.” Mamah fazaya mencoba membangunkan anak gadisnya,
yang saat ini jiwanya masih berada di alam khayal bersama dengan bunga-bunga
tidur yang menemaninya.
Hanya
ocehan yang berdengung keluar dari mulut Fazaya. Ocehan yang tidak di mengerti
oleh mamahnya.
“Ampun
deh ini anak, suruh sekolah masih aja tidur. Udah siang gini koh.” Kata mamahnya
sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
“Vaizaaaa....!!!”
teriak mamah Fazaya.
Vaiza
dengan bermalas-malasan mencoba membuka matanya yang masih terpejam. Wajah
polos menghiasinya pagi ini
“Mah..
sekarang jam berapa?” tanya Fazaya yang sedang mencoba ‘mengumpulkan’ nyawanya
“Jam
tujuh kurang lima belas menit.” Jawab mamah Fazaya dengan sinis
“Hah”
mata Fazaya membulat
“Aduh..
telat deh ke sekolah.” Katanya Fazaya panik
Mamah
Fazaya masih terpaku di sebelah tempat tidur Fazaya. Fazaya berjalan ke kamar
mandi dengan tergesa-gesa.
“Eh
kamu mau mandi jam segini”celetuk mamah Fazaya
“Ngga
mah.. aku cuman gosok gigi aja.” Jawab Fazaya
Fazaya
langsung bersiap-siap mengenakan seragam sekolahnya. Untung saja bukunya ia
sudah persiapkan dari semalam.Mamah Fazaya menuju dapur dan meninggalkan kamar
Fazaya.
Setelah
siap semuanya Fazaya turun menghampiri mamahnya.
“Mah..
Fazaya berangkat dulu ya mah.” Kata Fazaya mencari mamahnya.
“Iya,
hati-hati ya. Jangan ngebut.”
“Iya
mah.”
Fazaya
langsung menyambar kunci motor yang tergantung di ruang keluarga. Ia buru-buru
mengeluarakn motor maticnya di garasi.
Suara
motor Fazaya berbunyi. Fazaya melajukan motornya dengan kecepatan yang ‘sedikit
tinggi’, hatinya sedang sanagt gelisah. Selama motor matic berwana pink dan
putih ini melaju, pikiran Fazaya terus berterbangan membayangkan pintu gerbang
sekolah yang sudah di tutup. Pikirannya terus mencari akal agar dirinya bisa
masuk ke kelas, pagi ini.
Fazaya
menghembuskan napas panjang.
Sepuluh
menit sudah berlalu, semua apa yang telah di pikirkannya tadi tidak sesuai
dengan kenyataan. Fazya memarkirkan motornya di parkiran motor siswa. Fazya
melepas helmnya. Ia membenarkan rambutnya yang masih sedikit acak-acakan. Ia
mengambil parfum di tasnya lalu menyemprotkannya ke badannya.
Setelah
di rasa cukup. Fazaya melangkahkan kakinya menuju koridor sekolah. Kelas XI IPA
7 menjadi tempat tujuannya.
Fazaya
Nurul Khalida adalah kepanjangan dari seorang gadis yang bertempat tinggal di
bandung ini. Fazaya adalah sapaan akrabnya. Saat ini gadis yang bernama Fazaya
ini bersekolah di salah satu Sekolah Menengah Atas terbaik di Bandung.
Kelas
XI IPA 7 sekarang sudah berada di depannya. Fazaya masuk ke dalamnya. Suara
riuh ‘warga’ kelas terdengar di telinganya.
Lagi-lagi
Fazaya menghembuskan napas panjangnya. Ia sanagt bersyukur hari ini tuhan masih
berbelas kasih kepadanya
Fazaya
mengambil tempat duduk baris kedua dari depan. Ia lalu mengambil hpnya di saku
bajunya. Handphone bermerk terkenal ia keluarkan. Nampak ada 10 sms yang masuk.
Ia membacanya satu-satu, yang dianggapnya penting saja yang dibalas oleh
Fazaya.
Jari-jari
tangannya meari diatas keyboard handphonenya. Satu per satu sms yang masuk di
handphonenya ia balas. Hingga ia tak sadar gurunya sudah berada di ambang pintu
“Psst..psst..”
suara Kania teman sebangku Fazaya mencoba menyadarkan Fazaya yang masih
membalas pesan di handphonenya.
“Fazaya..”
katanya
Fazaya
langsung tersadar, ia segera menoleh ke arah Kania. Ia melihat guru Kimia sudah
berada di ambang pintu dan segera berjalan ke arah meja guru di ruang kelas XI
IPA 7 ini.
Fazaya
memasukkan handphonenya ke dalam laci tempat duduknya.
Guru
kimia Fazaya sekarang sudah menduduki kursi guru
“Anak-anak
hari ini tutup semua buku kalian. Ibu akan mengadakan ulangan dadakan hari ini
dan sekarang juga. Keluarakan selembar kertas untuk menulis jawaban.” Tegas Ibu
guru Kimia Fazaya
Deg!
Hati
Fazaya seperti di hantam batu yang sangat besar. Ulangan masih berlanjut,
Fazaya hanya memandangi soal-soal yang dituliskannya di papan tulis oleh guru
Kimiannya. Taka da satu pun dari sepuluh soal yang ia mengerti.
Fazaya
hilang ingatan.
Ia
tak tahu harus menjawab semua soal yang di berikannya oleh guru Kimiannya yang
satu ini. Fazaya menuliskann kembali semua soal di papan tulis yang sedang di
tuliskan oleh guru Kimiannya.
Fazaya
memandangi hasil tulisannnya di kertas. Goresan-goresan tinta lah yang nampak.
Otaknya tak bisa berpikir lagi. Kosong.
Ia
terus memandangi soal-soal kimia yang saat ini berada di atas meja tempat
duduknya. Fazaya hanya menggaruk-garuk kepalanya. Ia mencoba merangkai kepingan
demi kepingan memorinya. Tapi gagal.
Fazaya
tak tahu harus berbuat apa lagi.
Cerpenku
TINTA UNTUK INDONESIA
Indonesia Nurul Azmi adalah
nama panjangku. Kata warga Watuagung – desa tempat aku lahir dan dibesarkan di
Banyumas- namaku aneh, aku satu-satunya orang yang bernama sama dengan nama
republik dan tanah air tercinta.
Aku adalah seorang
gadis yang sederhana, hidupku jauh dari kata mewah. Ayahku hanyalah seorang
petani yang pekerja keras, ayah bekerja sejak matahari tersenyum menghangatkan
bumi hingga matahari tertidur. Ibuku, hanya seorang buruh cuci. Aku dilahirkan
lima belas tahun yang lalu.
Malam ini seperti
kebiasaan didesaku, warga berkumpul di balai desa untuk bergotong royong membuat obor yang merupakan
sahabat terbaik kami disaat bulan enggan tersenyum, bintang yang tertidur hanya
langit yang diselimuti awan gelap menemani. Ditemani angin malam berhembus
kencang, kurapatkan jaketku, kutelusuri desa bersama teman-teman menuju balai
desa. Angin malam saat ini sedang tidak bersahabat denganku. Beberapa kali
keluarga batuk yang berada ditubuhku keluar, kupaksa tubuhku berjalan walaupun
angin akan merasuki tubuhku.
Ketika kami telah
sampai dibalai desa, suara warga sedang
bekerjasama untuk membuat obor terdengar ramai sekali. Gergaji berteriak, bambupun
menangis histeris.
“Paijo,
tulung kuwe de angkatna maring nganah”1)teriak
Pak Budi, sang Kepala Desa. “Inggih Pak”2)
sahut yang dipanggil Paijo.
“Eh
Nia, nembe teka... ngeneh ngrewangi nyumed obor,
kowe njukut lenga karo korek disit, njaluk Bu Heri nganah”3)
Sapa Pak Danu ketika melihat aku dan teman-teman datang .“Ayuh kabehan pada kerja, ben cepet rampung”4)
“Siap pak” teriak beberapa warga.
Aku dan teman-teman
memang ditugaskan untuk mencoba menyalakan obor, terkadang obor yang sudah
bagus tetapi tidak bisa nyala. Itu tugas kami untuk mencoba menyalakannya agar
ketika digunakan, bisa aman.
Ketika jam balai desa
menunjukan pukul 23.00 WIB aku dan teman-teman berpamitan pulang terlebih
dahulu.
“Pak... bu.. nuwun sewu5) kami pulang duluan” kataku mewakili teman temen.
“Oh iya, ati-ati Nia.. obore aja kelalen digawa”6)
“Inggihpak..
bu... ”
Dipertigaan jalan aku
berpisah dengan Surti, Sukinah dan Juned. Arah rumahku dari pertigaan jalan ini
ke kanan, sedangkan Surti,Sukinah dan Juned ke kiri.Aku berjalan menelusuri
malam, terkadang kepalaku mendongak ke langit, terbesit dalam pikiranku
“Kenangapa
ya jerene negara Indonesia kuwe sugih, tapi deneng desaku urung ana lampu.
Saben dina kudu gawe obor. Tapi apa kabehan wilayah Indonesia kaya kuwe. Tapi
jerene ramane karo biyunge, neng kota tok sing apik ana lampu pirang-pirang, ana
lampu neon, lampu warna-warni. Jane sih aku mandan iri karo wong-wong sing wis
kepenak. Ora kaya neng desaku kiye. Tapi kepriwe maning, pak lurah wis tau
ngajukna maring bapak bupati, terus bapak bupati wis ngendika neng pemerintah
dhuwur presiden tapi tekan sikidurung ana perubahan. Pokoke enyong janji, enyong
arep nggawe desane nyong maju, wis ana lampu. Dongakna ya bapake biyunge.”
Mengapa di Indonesia
yang katanya negara kaya tapi masih ada desa yang dalam kegelapan termasuk desaku yang belum diterangi lampu dan masih
menggantungkan pada nyala obor. Sementara di kota pendar lampu terlihat gemerlap dan berkilau warna warni
dan hidup. Kesenjangan perhatian pembangunan kota dan desa benar-benar terasa.
Tak terasa aku sudah
sampai didepan bangunan yang kusebut rumah. Sebenarnya bangunan ini tak pantas
disebut rumah, lebih pantas disebut gubuk. Ya, disini keluargaku tinggal. Aku,
ayah,ibu dan seorang adik. Setiap hari tempat yang berada dihadapanku ini adalah
tempat segala cerita. Mulai dari cerita senang, hingga sedih.
Aku dengan gontai masuk
kedalam rumah lalu menuju ke kamar. Aku merebahkan badanku dikasur lantai,
karena keluargaku tidak punya kasur yang apik.
Bola mataku tertuju pada langit-langit kamar yang hanya terbuat dari bambu dan
seng. Pikiranku sedang melayang-layang ke negeri khayalan, bola mataku masih
enggan untuk menutup, seketika itu hatiku berbicara “kowe kudu bisa”7) dan langsung di tangkap oleh otakku
melalui aliran darah.
Pagi yang cerah, mentari
sudah tersenyum menyapa pagiku. Suara kokokan ayam yang merdu membangunkan pagi
ini. Mimpi-mimpiku tadi malam telah pudar seolah ditelan bumi. Pagi ini ayahku
sedang bersiap-siap menuju sawah, ayah menggarap lahan sawah yang bukan
miliknya, ia hanya bekerja sebagai penggarap. Sedangkan ibu, berangkat kerja
sekitar pukul sembilan pagi nanti.
Pagi ini sarapan telah
siap di meja makan, dengan setengah sadar kupakai sandal butut milikku menuju
dapur, menu sarapanku adalah nasi, sambel terasi dan kerupuk serta ditemani teh
tawar hangat. Sebelum makan aku bergegas mandi. Aku masuk kamar mandi yang
letaknya dibelakang rumahku.Brrrrr... dingin sekali. Air dipedesaan memang
seperti air es batu. Gigiku bergemeretak tak kuasa menahan dinginnya air, badanku
menggigil dan kupercepat mandiku.Hari ini aku mempunyai janji dengan
teman-temanku untuk mencari ikan di sungai. Setelah mandi pagi, aku bergegas menuju
meja makan untuk sarapan.Sarapan pagi hari ini ku makan dengan lahap. Ibu yang
duduk di sebelahku hanya bisa terdiam melihat tingkah laku aku saat sarapan.
“Bu,kula
kalih kanca-kanca bade mancing iwak teng lepen”8)
“Oya
wis nganah, ati-ati ya”9)
Saat itu terdengar suara dari depan
rumah. “Nia... Nia.. , temanku memanggil
aku untuk menjemputku pergi ke sungai.
“Ibu
kula pamit nggih”10)
sambil mencium tangan ibuku
Sepanjang perjalanan
kami bertukar cerita tentang banyak hal, Surti sahabatku mengatakan sesuatu
yang penting . Kami memang sebagai anak desa sudah biasa berjalan kaki,
hitung-hitung sambil cuci mata melihat pemandangan
“Ni,
kowe mbok jerene arep dadi penulis, wingi aku di critani biyunge jere neng
umahe pak Diro tukang kepul barang bekas kae ana mesin ketik bekas tapi esih
apik, regane sewidak ewu.”11)
“Oh ya?... Sing bener ?”
“Ya,
jajal mengko parani nggone pak Diro.
Jerene bisa dicicil bayare”12)
“Ya
wis mengko nganah ya”13)
Tak terasa kami telah
sampai di sungai yang kami anggap sebagai kolam renang. Hanya Juned yang
berenang, Aku putuskan untuk mencari ikan saja. Siapa tahu dapat ikan untuk
makan nanti, kan lumayan. Kami
mengangkap ikan hanya dengan tangan kosong saja, cara tradisional turun temurun
yang kami selalu lakukan untuk menangkap ikan, awalnya memang sulit bagi kami,
tetapi lama kelamaan kami mahir dalam menangkap ikan.
Tak terasa matahari
sudah berada diatas kepala, aku dan ketiga sahabatku pergi ke tempat pengepul
barang bekas, rumah Pak Diro. Jarak dari sungai ke rumah Pak Diro sekitar lima
belas menit, dan kami tempuh dengan berjalan kaki, seperti biasa untuk
menghilangkan rasa lelah kami, ceritapun menjadi solusi terbaik. Tak terasakami
sudah sampai di rumah Pak Diro
“Assalamualaikum pak Diro..” teriak kami
“Wa’alaikumsalam”
“Pak apa ada mesin ketik yang mau dijual?”
“Oh ya benar Ni....”
“Berapa harganya Pak”
“Sewidak
ewu”14)
“lha.. kok mahal... boleh kurang nggak
pak?”
“Buat kamu apa Ni.. ?”
“Ya Pak.. saya butuh mesin tik untuk
membantu menulis karangan. Kalau boleh
saya ingin membeli tapi bayarnya ngak sekarang ya... uang saya belum cukup”
“Ya sudah.. bapak kasih ke kamu harga
lima puluh ribu ”
“ya
matur nuwun pak”15)
Setelah itu kami
berpamitan kepada pak Diro. Aku dan sahabat-sahabatku pulang ke rumah
masing-masing.Semenjak hari itu di rumah pak Diro, aku mencoba mencari
pekerjaan di desa agar aku bisa membeli mesin ketik. Aku ceritakan keinginanku
kepada ibu, dan kebetulan Bu Kades membutuhkan rewang untuk membersihkan rumah. Keesokan harinya aku pergi ketempat
yang dimaksud ibu, Bu Anjar adalah ibu kades ku. Aku bekerja di rumah Ibu Kades
sebagai rewang dari pagi hari hingga sore menjelang malam. Kerjaanku dari mulai
ngepel, nyapu, cuci piring, cuci baju dan bersih-bersih rumah. Ini semua
aku lakukan hanya demi dapat membeli mesin ketik.
Satu bulan lamanya aku bekerja dirumah ibu kades.
Selama itu sudah banyak tenaga, keringat yang aku keluarkan, dan usahaku tak
sia-sia.Berkat kerja keras aku bekerja , gaji ku bisa untuk beli mesin ketik
dan masih ada sisa, sisa separuh aku tabung dan separuhnya lagi aku berikan
kepada orang tuaku. Sepulang dari rumah Ibu Anjar, dengan gembira aku langsung menuju
rumah Pak Diro untuk membeli mesin ketik.
“Assalamualaikum.. Pak Diro..”
“Wa’alaikumsalam, ya sebentar... eh Nia..”
“Pak Diro, nuwunsewu... saya datang ke
Bapak untuk memenuhi janji saya membayar mesin tik yang kemarin kita bicarakan”
“Oh ya,... sedhela16) sayaambil ”... Pak Diro bergegas masuk ke
dalam rumah
“ Ini mesin ketiknya. Masih bagus lho..
dicoba dulu..”
“Ya pak... saya percaya kok... nggak usah
dicoba...”
“Ya sudah kalau begitu... ini saya beri
bonus kertas seratus lembar. Semoga bisa bermanfaat dan mendukung cita-citamu
sebagai penulis.”
“Aamiin... matur nuwun.. saya langsung
pamit Pak Diro”
“Ya .. hati-hati ya..”
Lalu aku pulang ke
rumah sambil membawa mesin ketik yang baru saja ku beli dari hasil keringatku
sendiri. Sepanjang jalan menuju rumah, aku dekap mesin ketiku, dengan senang
hati , aku bawa dengan hati-hati.n Sesampainya di rumah, aku letakkan mesin
ketiku di atas meja reot dengan cat yang memudar yang menambah kesan tua. Mesin
ketik ini memang tidak menggunakan listrik untuk menyalakannya.Aku senang
sekali!Mesin ketik itu lalu aku beri nama Cahaya
Cahaya,
aku akan merawatmu. Denganmu aku akan menjadikan desa ini maju seperti janjiku
dulu.. dan sekarang waktuku untuk menepatinya.
Cahaya, aku simpan di
kamar. Semenjak kehadiran cahaya, intensitas menulisku jadi lebih sering. Sering
aku mengetik cerpen juga puisi. Awalnya aku ragu, takut hasilnya jelek, tetapi orang tuaku selalu mendukungku
mereka memberi dukungan sepenuhnya untuk aku. Mereka berharap aku bisa
membanggakan negaraku, seperti namaku Indonesia.
Suatu hari, tetanggaku
memberitahuku tentang lomba kepenulisan se- Kabupaten, dan Pak Kades memilih aku
untuk mewakili desa dalam lomba tersebut. Puji syukur Alhamdulillah, aku bisa
memenangkan lomba di tingkat Kabupaten dan terpilih untuk mewakili Kabupaten di
tingkat Provinsi, bahkan kemenangan yang aku raih sampai tingkat Nasional mengalahkan peserta
dari provinsi-provinsi lain se Indonesia. Kemenanganku ini mengantarkan aku
untuk dapat bertemu dengan Bapak Presiden dan mendapatkan hadiah-hadiah yang
tidak aku duga.
Luar biasa!, batinku
Tak ku sia-siakan
pertemuanku dengan bapak presiden, aku bercerita tentang desaku ketika bapak
presiden bertanya tentang desaku.Aku bercerita bahwa aku hanya seorang gadis
miskin, yang bertempat tinggal di pelosok Kabupaten Banyumas, desa yang sulit
dijangkau, desa yang belum ada penerangan, desa yang indah dan bla bla bla..,
aku ceritakan semua.
Dan ketika aku pulang
ke kampung setelah mendapat kemenangan itu, pandanganku haru. Ketika melewati
jalan batas desa aku terkejut dengan spanduk di depan desa dengan gambar
wajahku dan bertuliskan :
SELAMAT
DATANG PAHLAWAN DESA KAMI, INDONESIA!!!
Aku menangis bahagia,
warga desa lalu berkumpul di perbatasan desa, Aku lalu memeluk kedua orang
tuaku. Cita-cita ku sekarang telah terwujud, harapan orang tua memberi nama aku
INDONESIA sekarang telah terwujud, dan satu lagi..Desaku sekarang sudah ada
lampu, sudah ada penerang. Warga tak perlu repot-repot membuat obor. Akhirnya
cita-citaku terkabulkan, dan aku berjanji aku akan menjadi Indonesia yang seperti
dulu, bersahabat dengan Surti,Juned, Sukinah. Aku akan menjadi diriku sendiri.
Aku, Indonesia akan terus
menjadi seorang penulis yang membanggakan Ibu pertiwi dengan karya-karyaku.
Dan, mesin ketiku, Cahaya. Terimakasih banyak.
CATATAN
1)
Paijo,
tolong itu dipindah ke sana...
2)
Ya
Pak
3)
Eh..
Nia.. baru datang..sini bantu menyalakan obor.. kamu ambil minyak dan korek
dulu minta Bu Heri..
4)
Ayo..
semua kerja biar cepat selesai
5)
Maaf
6)
Jangan
lupa obornya dibawa
7)
Kamu
harus bisa
8)
Saya
dengan teman-teman akan mancing ikan di sungai
9)
Ya..
hati-hati..
10)
Bu,
saya berangkat..
11)
Ni,
kamu katanya mau jadi penulis. Kemarin aku diberi tahu sama ibu kalau di rumah
Pak Diro Pengepul barang bekas ada mesin ketik bekas yang masih bagus, harganya
enam puluh ribu..
12)
Ya
.. coba nanti kita kesana.. katanya bisa dicicil pembayarannya
13)
Ya
udah.. nanti kita kesana ya..
14)
Enam
puluh ribu
15)
Ya,
terima kasih Pak..
16)
Sebentar
Langganan:
Komentar (Atom)

















