Kepingan yang hilang
Mentari
kini sudah mulai menampakkan dirinya di atas langit Ibu Pertiwi. Siluetnya
sudah menghilang sedari tadi. Titik-titik embun yang membasahi dedaunan sudah
menghilang entah kemana.
Di
dalam kamar Fazaya, jam menggantungkan angkanya. Jarum panjang tepat berada di
angka tujuh, dan jarum panjang tepat menggantung di angka dua belas.Jam bulat
bermotif polkadot dengan warna putih berdegradasi merah jambu ini berdering.
Deringnya yang cukup keras tak mampu membangunkannya.
Mamah
Fazaya membuka engsel pintu kayu bercat merah muda. Kepalanya melongok isi
kamar. Ia melihat anak gadisnya yang masih terlelap di kasur kamarnya dengan
sprei yang bergambar Menara Eiffel. Mamah fazaya berjalan menuju dalam kamar,
ia hanya menggelengkan kepalanya.
Mulutnya
terus berdecak.
Mamah
fazaya menuju ke jendela kamar anak gadisnya. Ia membuka tirai kamar yang
berwarna pink polos ini.
“Fazaya...
bangun nak. Sudah siang ini.” Mamah fazaya mencoba membangunkan anak gadisnya,
yang saat ini jiwanya masih berada di alam khayal bersama dengan bunga-bunga
tidur yang menemaninya.
Hanya
ocehan yang berdengung keluar dari mulut Fazaya. Ocehan yang tidak di mengerti
oleh mamahnya.
“Ampun
deh ini anak, suruh sekolah masih aja tidur. Udah siang gini koh.” Kata mamahnya
sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
“Vaizaaaa....!!!”
teriak mamah Fazaya.
Vaiza
dengan bermalas-malasan mencoba membuka matanya yang masih terpejam. Wajah
polos menghiasinya pagi ini
“Mah..
sekarang jam berapa?” tanya Fazaya yang sedang mencoba ‘mengumpulkan’ nyawanya
“Jam
tujuh kurang lima belas menit.” Jawab mamah Fazaya dengan sinis
“Hah”
mata Fazaya membulat
“Aduh..
telat deh ke sekolah.” Katanya Fazaya panik
Mamah
Fazaya masih terpaku di sebelah tempat tidur Fazaya. Fazaya berjalan ke kamar
mandi dengan tergesa-gesa.
“Eh
kamu mau mandi jam segini”celetuk mamah Fazaya
“Ngga
mah.. aku cuman gosok gigi aja.” Jawab Fazaya
Fazaya
langsung bersiap-siap mengenakan seragam sekolahnya. Untung saja bukunya ia
sudah persiapkan dari semalam.Mamah Fazaya menuju dapur dan meninggalkan kamar
Fazaya.
Setelah
siap semuanya Fazaya turun menghampiri mamahnya.
“Mah..
Fazaya berangkat dulu ya mah.” Kata Fazaya mencari mamahnya.
“Iya,
hati-hati ya. Jangan ngebut.”
“Iya
mah.”
Fazaya
langsung menyambar kunci motor yang tergantung di ruang keluarga. Ia buru-buru
mengeluarakn motor maticnya di garasi.
Suara
motor Fazaya berbunyi. Fazaya melajukan motornya dengan kecepatan yang ‘sedikit
tinggi’, hatinya sedang sanagt gelisah. Selama motor matic berwana pink dan
putih ini melaju, pikiran Fazaya terus berterbangan membayangkan pintu gerbang
sekolah yang sudah di tutup. Pikirannya terus mencari akal agar dirinya bisa
masuk ke kelas, pagi ini.
Fazaya
menghembuskan napas panjang.
Sepuluh
menit sudah berlalu, semua apa yang telah di pikirkannya tadi tidak sesuai
dengan kenyataan. Fazya memarkirkan motornya di parkiran motor siswa. Fazya
melepas helmnya. Ia membenarkan rambutnya yang masih sedikit acak-acakan. Ia
mengambil parfum di tasnya lalu menyemprotkannya ke badannya.
Setelah
di rasa cukup. Fazaya melangkahkan kakinya menuju koridor sekolah. Kelas XI IPA
7 menjadi tempat tujuannya.
Fazaya
Nurul Khalida adalah kepanjangan dari seorang gadis yang bertempat tinggal di
bandung ini. Fazaya adalah sapaan akrabnya. Saat ini gadis yang bernama Fazaya
ini bersekolah di salah satu Sekolah Menengah Atas terbaik di Bandung.
Kelas
XI IPA 7 sekarang sudah berada di depannya. Fazaya masuk ke dalamnya. Suara
riuh ‘warga’ kelas terdengar di telinganya.
Lagi-lagi
Fazaya menghembuskan napas panjangnya. Ia sanagt bersyukur hari ini tuhan masih
berbelas kasih kepadanya
Fazaya
mengambil tempat duduk baris kedua dari depan. Ia lalu mengambil hpnya di saku
bajunya. Handphone bermerk terkenal ia keluarkan. Nampak ada 10 sms yang masuk.
Ia membacanya satu-satu, yang dianggapnya penting saja yang dibalas oleh
Fazaya.
Jari-jari
tangannya meari diatas keyboard handphonenya. Satu per satu sms yang masuk di
handphonenya ia balas. Hingga ia tak sadar gurunya sudah berada di ambang pintu
“Psst..psst..”
suara Kania teman sebangku Fazaya mencoba menyadarkan Fazaya yang masih
membalas pesan di handphonenya.
“Fazaya..”
katanya
Fazaya
langsung tersadar, ia segera menoleh ke arah Kania. Ia melihat guru Kimia sudah
berada di ambang pintu dan segera berjalan ke arah meja guru di ruang kelas XI
IPA 7 ini.
Fazaya
memasukkan handphonenya ke dalam laci tempat duduknya.
Guru
kimia Fazaya sekarang sudah menduduki kursi guru
“Anak-anak
hari ini tutup semua buku kalian. Ibu akan mengadakan ulangan dadakan hari ini
dan sekarang juga. Keluarakan selembar kertas untuk menulis jawaban.” Tegas Ibu
guru Kimia Fazaya
Deg!
Hati
Fazaya seperti di hantam batu yang sangat besar. Ulangan masih berlanjut,
Fazaya hanya memandangi soal-soal yang dituliskannya di papan tulis oleh guru
Kimiannya. Taka da satu pun dari sepuluh soal yang ia mengerti.
Fazaya
hilang ingatan.
Ia
tak tahu harus menjawab semua soal yang di berikannya oleh guru Kimiannya yang
satu ini. Fazaya menuliskann kembali semua soal di papan tulis yang sedang di
tuliskan oleh guru Kimiannya.
Fazaya
memandangi hasil tulisannnya di kertas. Goresan-goresan tinta lah yang nampak.
Otaknya tak bisa berpikir lagi. Kosong.
Ia
terus memandangi soal-soal kimia yang saat ini berada di atas meja tempat
duduknya. Fazaya hanya menggaruk-garuk kepalanya. Ia mencoba merangkai kepingan
demi kepingan memorinya. Tapi gagal.
Fazaya
tak tahu harus berbuat apa lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar