WELCOME
OKTAVIA NURAINI WIDYASARI
MAN PURWOKERTO 1
SEMOGA SUKSES
SEMANGAT

Kamis, 04 Februari 2016

Cerpen II



Kepingan yang hilang
Mentari kini sudah mulai menampakkan dirinya di atas langit Ibu Pertiwi. Siluetnya sudah menghilang sedari tadi. Titik-titik embun yang membasahi dedaunan sudah menghilang entah kemana.
Di dalam kamar Fazaya, jam menggantungkan angkanya. Jarum panjang tepat berada di angka tujuh, dan jarum panjang tepat menggantung di angka dua belas.Jam bulat bermotif polkadot dengan warna putih berdegradasi merah jambu ini berdering. Deringnya yang cukup keras tak mampu membangunkannya.
Mamah Fazaya membuka engsel pintu kayu bercat merah muda. Kepalanya melongok isi kamar. Ia melihat anak gadisnya yang masih terlelap di kasur kamarnya dengan sprei yang bergambar Menara Eiffel. Mamah fazaya berjalan menuju dalam kamar, ia hanya menggelengkan kepalanya.
Mulutnya terus berdecak.
Mamah fazaya menuju ke jendela kamar anak gadisnya. Ia membuka tirai kamar yang berwarna pink polos ini.
“Fazaya... bangun nak. Sudah siang ini.” Mamah fazaya mencoba membangunkan anak gadisnya, yang saat ini jiwanya masih berada di alam khayal bersama dengan bunga-bunga tidur yang menemaninya.
Hanya ocehan yang berdengung keluar dari mulut Fazaya. Ocehan yang tidak di mengerti oleh mamahnya.
“Ampun deh ini anak, suruh sekolah masih aja tidur. Udah siang gini koh.” Kata mamahnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
“Vaizaaaa....!!!” teriak mamah Fazaya.
Vaiza dengan bermalas-malasan mencoba membuka matanya yang masih terpejam. Wajah polos menghiasinya pagi ini
“Mah.. sekarang jam berapa?” tanya Fazaya yang sedang mencoba ‘mengumpulkan’ nyawanya
“Jam tujuh kurang lima belas menit.” Jawab mamah Fazaya dengan sinis
“Hah” mata Fazaya membulat
“Aduh.. telat deh ke sekolah.” Katanya Fazaya panik
Mamah Fazaya masih terpaku di sebelah tempat tidur Fazaya. Fazaya berjalan ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.
“Eh kamu mau mandi jam segini”celetuk mamah Fazaya
“Ngga mah.. aku cuman gosok gigi aja.” Jawab Fazaya
Fazaya langsung bersiap-siap mengenakan seragam sekolahnya. Untung saja bukunya ia sudah persiapkan dari semalam.Mamah Fazaya menuju dapur dan meninggalkan kamar Fazaya.
Setelah siap semuanya Fazaya turun menghampiri mamahnya.
“Mah.. Fazaya berangkat dulu ya mah.” Kata Fazaya mencari mamahnya.
“Iya, hati-hati ya. Jangan ngebut.”
“Iya mah.”
Fazaya langsung menyambar kunci motor yang tergantung di ruang keluarga. Ia buru-buru mengeluarakn motor maticnya di garasi.
Suara motor Fazaya berbunyi. Fazaya melajukan motornya dengan kecepatan yang ‘sedikit tinggi’, hatinya sedang sanagt gelisah. Selama motor matic berwana pink dan putih ini melaju, pikiran Fazaya terus berterbangan membayangkan pintu gerbang sekolah yang sudah di tutup. Pikirannya terus mencari akal agar dirinya bisa masuk ke kelas, pagi ini.
Fazaya menghembuskan napas panjang.
Sepuluh menit sudah berlalu, semua apa yang telah di pikirkannya tadi tidak sesuai dengan kenyataan. Fazya memarkirkan motornya di parkiran motor siswa. Fazya melepas helmnya. Ia membenarkan rambutnya yang masih sedikit acak-acakan. Ia mengambil parfum di tasnya lalu menyemprotkannya ke badannya.
Setelah di rasa cukup. Fazaya melangkahkan kakinya menuju koridor sekolah. Kelas XI IPA 7 menjadi tempat tujuannya.
Fazaya Nurul Khalida adalah kepanjangan dari seorang gadis yang bertempat tinggal di bandung ini. Fazaya adalah sapaan akrabnya. Saat ini gadis yang bernama Fazaya ini bersekolah di salah satu Sekolah Menengah Atas terbaik di Bandung.
Kelas XI IPA 7 sekarang sudah berada di depannya. Fazaya masuk ke dalamnya. Suara riuh ‘warga’ kelas terdengar di telinganya.
Lagi-lagi Fazaya menghembuskan napas panjangnya. Ia sanagt bersyukur hari ini tuhan masih berbelas kasih kepadanya
Fazaya mengambil tempat duduk baris kedua dari depan. Ia lalu mengambil hpnya di saku bajunya. Handphone bermerk terkenal ia keluarkan. Nampak ada 10 sms yang masuk. Ia membacanya satu-satu, yang dianggapnya penting saja yang dibalas oleh Fazaya.
Jari-jari tangannya meari diatas keyboard handphonenya. Satu per satu sms yang masuk di handphonenya ia balas. Hingga ia tak sadar gurunya sudah berada di ambang pintu
“Psst..psst..” suara Kania teman sebangku Fazaya mencoba menyadarkan Fazaya yang masih membalas pesan di handphonenya.
“Fazaya..” katanya
Fazaya langsung tersadar, ia segera menoleh ke arah Kania. Ia melihat guru Kimia sudah berada di ambang pintu dan segera berjalan ke arah meja guru di ruang kelas XI IPA 7 ini.
Fazaya memasukkan handphonenya ke dalam laci tempat duduknya.
Guru kimia Fazaya sekarang sudah menduduki kursi guru
“Anak-anak hari ini tutup semua buku kalian. Ibu akan mengadakan ulangan dadakan hari ini dan sekarang juga. Keluarakan selembar kertas untuk menulis jawaban.” Tegas Ibu guru Kimia Fazaya
Deg!
Hati Fazaya seperti di hantam batu yang sangat besar. Ulangan masih berlanjut, Fazaya hanya memandangi soal-soal yang dituliskannya di papan tulis oleh guru Kimiannya. Taka da satu pun dari sepuluh soal yang ia mengerti.
Fazaya hilang ingatan.
Ia tak tahu harus menjawab semua soal yang di berikannya oleh guru Kimiannya yang satu ini. Fazaya menuliskann kembali semua soal di papan tulis yang sedang di tuliskan oleh guru Kimiannya.
Fazaya memandangi hasil tulisannnya di kertas. Goresan-goresan tinta lah yang nampak. Otaknya tak bisa berpikir lagi. Kosong.
Ia terus memandangi soal-soal kimia yang saat ini berada di atas meja tempat duduknya. Fazaya hanya menggaruk-garuk kepalanya. Ia mencoba merangkai kepingan demi kepingan memorinya. Tapi gagal.
Fazaya tak tahu harus berbuat apa lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar