WELCOME
OKTAVIA NURAINI WIDYASARI
MAN PURWOKERTO 1
SEMOGA SUKSES
SEMANGAT

Minggu, 28 Februari 2016

Untuk Kalibiru, Jogjakarta

Untuk Kalibiru Jogjakarta

Aku berterimakasih kepada Tuhan
menciptakan Senja hari ini.
Senja di Kalibiru, jogja.
ketika kedua pasang mata saling beradu-padu.
diatas pohon : rumah pohon.
Menyiratkan secerca harapan.
aku bersyukur
hari ini Allah masih menyisakan waktu hidup untukku
aku masih bisa melihat keindahan-Nya.
melalui sepasang bola mata ini.
Dan...
sebuah kisah baru kutuliskan diatas diaryku 
tentangmu...

Untuk "DIA"

Sajak kecilku

Masih teringat dibenakku
Cerita kita: aku dan kamu
akan kusimpan namamu di relung hatiku
walau jarak memisahkan
tak bisa mematahkan semua yang terukir tentang kita

Di kota ini. cerita kita semua terukir dengan baik
Terimakasih Semarang.
 
~Semarang, 15 Februari 2016~

Aku dan Mimpiku



Aku dan mimpiku

Mimpi
Jangan kamu abaikan dia
biarkan mimpi itu menggantung di atas tembok dinding kamarmu.
Sajak Kecilku ini kutulis bersama mimpi
Duta?
aku pernah bermimpi itu
dan kau tahu
dulu itu hanya coretan di kertas
tapi saat ini?
Duta Perdamaian dan Kerukunan antar umat beragama Jawa Tengah perwakilan dari Kabupaten Banyumas
dan kau tahu?
aku mendapatkan gelar itu.
terimakasih tuhan
untuk coretan mimpi ini:)
 

Kamis, 11 Februari 2016

Dia adalah sahabatku (diary)



Buku adalah sahabat orang-orang berilmu. Saat mereka berdiskusi dengan bukunya, mereka diam-diam mengagumi dan mendoakan penulisnya.

buku adalah sahabat orang-orang berilmu. Saat mereka berdiskusi dengan bukunya, mereka diam-diam mengagumi dan mendoakan penulisnya. - See more at: http://www.bijakkata.com/2013/07/Kumpulan-motivasi-kata-mutiara-bijak-Penulis-Inspirasi-menulis.html#sthash.DSlE7snC.dpuf
buku adalah sahabat orang-orang berilmu. Saat mereka berdiskusi dengan bukunya, mereka diam-diam mengagumi dan mendoakan penulisnya. - See more at: http://www.bijakkata.com/2013/07/Kumpulan-motivasi-kata-mutiara-bijak-Penulis-Inspirasi-menulis.html#sthash.DSlE7snC.dpuf
buku adalah sahabat orang-orang berilmu. Saat mereka berdiskusi dengan bukunya, mereka diam-diam mengagumi dan mendoakan penulisnya. - See more at: http://www.bijakkata.com/2013/07/Kumpulan-motivasi-kata-mutiara-bijak-Penulis-Inspirasi-menulis.html#sthash.DSlE7snC.dpuf

Kamis, 04 Februari 2016

Cerpen II



Kepingan yang hilang
Mentari kini sudah mulai menampakkan dirinya di atas langit Ibu Pertiwi. Siluetnya sudah menghilang sedari tadi. Titik-titik embun yang membasahi dedaunan sudah menghilang entah kemana.
Di dalam kamar Fazaya, jam menggantungkan angkanya. Jarum panjang tepat berada di angka tujuh, dan jarum panjang tepat menggantung di angka dua belas.Jam bulat bermotif polkadot dengan warna putih berdegradasi merah jambu ini berdering. Deringnya yang cukup keras tak mampu membangunkannya.
Mamah Fazaya membuka engsel pintu kayu bercat merah muda. Kepalanya melongok isi kamar. Ia melihat anak gadisnya yang masih terlelap di kasur kamarnya dengan sprei yang bergambar Menara Eiffel. Mamah fazaya berjalan menuju dalam kamar, ia hanya menggelengkan kepalanya.
Mulutnya terus berdecak.
Mamah fazaya menuju ke jendela kamar anak gadisnya. Ia membuka tirai kamar yang berwarna pink polos ini.
“Fazaya... bangun nak. Sudah siang ini.” Mamah fazaya mencoba membangunkan anak gadisnya, yang saat ini jiwanya masih berada di alam khayal bersama dengan bunga-bunga tidur yang menemaninya.
Hanya ocehan yang berdengung keluar dari mulut Fazaya. Ocehan yang tidak di mengerti oleh mamahnya.
“Ampun deh ini anak, suruh sekolah masih aja tidur. Udah siang gini koh.” Kata mamahnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
“Vaizaaaa....!!!” teriak mamah Fazaya.
Vaiza dengan bermalas-malasan mencoba membuka matanya yang masih terpejam. Wajah polos menghiasinya pagi ini
“Mah.. sekarang jam berapa?” tanya Fazaya yang sedang mencoba ‘mengumpulkan’ nyawanya
“Jam tujuh kurang lima belas menit.” Jawab mamah Fazaya dengan sinis
“Hah” mata Fazaya membulat
“Aduh.. telat deh ke sekolah.” Katanya Fazaya panik
Mamah Fazaya masih terpaku di sebelah tempat tidur Fazaya. Fazaya berjalan ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.
“Eh kamu mau mandi jam segini”celetuk mamah Fazaya
“Ngga mah.. aku cuman gosok gigi aja.” Jawab Fazaya
Fazaya langsung bersiap-siap mengenakan seragam sekolahnya. Untung saja bukunya ia sudah persiapkan dari semalam.Mamah Fazaya menuju dapur dan meninggalkan kamar Fazaya.
Setelah siap semuanya Fazaya turun menghampiri mamahnya.
“Mah.. Fazaya berangkat dulu ya mah.” Kata Fazaya mencari mamahnya.
“Iya, hati-hati ya. Jangan ngebut.”
“Iya mah.”
Fazaya langsung menyambar kunci motor yang tergantung di ruang keluarga. Ia buru-buru mengeluarakn motor maticnya di garasi.
Suara motor Fazaya berbunyi. Fazaya melajukan motornya dengan kecepatan yang ‘sedikit tinggi’, hatinya sedang sanagt gelisah. Selama motor matic berwana pink dan putih ini melaju, pikiran Fazaya terus berterbangan membayangkan pintu gerbang sekolah yang sudah di tutup. Pikirannya terus mencari akal agar dirinya bisa masuk ke kelas, pagi ini.
Fazaya menghembuskan napas panjang.
Sepuluh menit sudah berlalu, semua apa yang telah di pikirkannya tadi tidak sesuai dengan kenyataan. Fazya memarkirkan motornya di parkiran motor siswa. Fazya melepas helmnya. Ia membenarkan rambutnya yang masih sedikit acak-acakan. Ia mengambil parfum di tasnya lalu menyemprotkannya ke badannya.
Setelah di rasa cukup. Fazaya melangkahkan kakinya menuju koridor sekolah. Kelas XI IPA 7 menjadi tempat tujuannya.
Fazaya Nurul Khalida adalah kepanjangan dari seorang gadis yang bertempat tinggal di bandung ini. Fazaya adalah sapaan akrabnya. Saat ini gadis yang bernama Fazaya ini bersekolah di salah satu Sekolah Menengah Atas terbaik di Bandung.
Kelas XI IPA 7 sekarang sudah berada di depannya. Fazaya masuk ke dalamnya. Suara riuh ‘warga’ kelas terdengar di telinganya.
Lagi-lagi Fazaya menghembuskan napas panjangnya. Ia sanagt bersyukur hari ini tuhan masih berbelas kasih kepadanya
Fazaya mengambil tempat duduk baris kedua dari depan. Ia lalu mengambil hpnya di saku bajunya. Handphone bermerk terkenal ia keluarkan. Nampak ada 10 sms yang masuk. Ia membacanya satu-satu, yang dianggapnya penting saja yang dibalas oleh Fazaya.
Jari-jari tangannya meari diatas keyboard handphonenya. Satu per satu sms yang masuk di handphonenya ia balas. Hingga ia tak sadar gurunya sudah berada di ambang pintu
“Psst..psst..” suara Kania teman sebangku Fazaya mencoba menyadarkan Fazaya yang masih membalas pesan di handphonenya.
“Fazaya..” katanya
Fazaya langsung tersadar, ia segera menoleh ke arah Kania. Ia melihat guru Kimia sudah berada di ambang pintu dan segera berjalan ke arah meja guru di ruang kelas XI IPA 7 ini.
Fazaya memasukkan handphonenya ke dalam laci tempat duduknya.
Guru kimia Fazaya sekarang sudah menduduki kursi guru
“Anak-anak hari ini tutup semua buku kalian. Ibu akan mengadakan ulangan dadakan hari ini dan sekarang juga. Keluarakan selembar kertas untuk menulis jawaban.” Tegas Ibu guru Kimia Fazaya
Deg!
Hati Fazaya seperti di hantam batu yang sangat besar. Ulangan masih berlanjut, Fazaya hanya memandangi soal-soal yang dituliskannya di papan tulis oleh guru Kimiannya. Taka da satu pun dari sepuluh soal yang ia mengerti.
Fazaya hilang ingatan.
Ia tak tahu harus menjawab semua soal yang di berikannya oleh guru Kimiannya yang satu ini. Fazaya menuliskann kembali semua soal di papan tulis yang sedang di tuliskan oleh guru Kimiannya.
Fazaya memandangi hasil tulisannnya di kertas. Goresan-goresan tinta lah yang nampak. Otaknya tak bisa berpikir lagi. Kosong.
Ia terus memandangi soal-soal kimia yang saat ini berada di atas meja tempat duduknya. Fazaya hanya menggaruk-garuk kepalanya. Ia mencoba merangkai kepingan demi kepingan memorinya. Tapi gagal.
Fazaya tak tahu harus berbuat apa lagi.

Cerpenku



TINTA UNTUK INDONESIA

Indonesia Nurul Azmi adalah nama panjangku. Kata warga Watuagung – desa tempat aku lahir dan dibesarkan di Banyumas- namaku aneh, aku satu-satunya orang yang bernama sama dengan nama republik dan tanah air tercinta.
Aku adalah seorang gadis yang sederhana, hidupku jauh dari kata mewah. Ayahku hanyalah seorang petani yang pekerja keras, ayah bekerja sejak matahari tersenyum menghangatkan bumi hingga matahari tertidur. Ibuku, hanya seorang buruh cuci. Aku dilahirkan lima belas tahun yang lalu.
Malam ini seperti kebiasaan didesaku, warga berkumpul di balai desa untuk  bergotong royong membuat obor yang merupakan sahabat terbaik kami disaat bulan enggan tersenyum, bintang yang tertidur hanya langit yang diselimuti awan gelap menemani. Ditemani angin malam berhembus kencang, kurapatkan jaketku, kutelusuri desa bersama teman-teman menuju balai desa. Angin malam saat ini sedang tidak bersahabat denganku. Beberapa kali keluarga batuk yang berada ditubuhku keluar, kupaksa tubuhku berjalan walaupun angin akan merasuki tubuhku.
Ketika kami telah sampai dibalai desa, suara  warga sedang bekerjasama untuk membuat obor terdengar ramai sekali. Gergaji berteriak, bambupun menangis histeris.
“Paijo, tulung kuwe de angkatna maring nganah”1)teriak Pak Budi, sang Kepala Desa. “Inggih Pak”2) sahut yang dipanggil Paijo.
“Eh Nia, nembe teka... ngeneh ngrewangi nyumed obor, kowe njukut lenga karo korek disit, njaluk Bu Heri nganah”3) Sapa Pak Danu ketika melihat aku dan teman-teman datang .“Ayuh kabehan pada kerja, ben cepet rampung”4)
“Siap pak” teriak beberapa warga.
Aku dan teman-teman memang ditugaskan untuk mencoba menyalakan obor, terkadang obor yang sudah bagus tetapi tidak bisa nyala. Itu tugas kami untuk mencoba menyalakannya agar ketika digunakan, bisa aman.
Ketika jam balai desa menunjukan pukul 23.00 WIB aku dan teman-teman berpamitan pulang terlebih dahulu.
“Pak... bu.. nuwun sewu5) kami pulang duluan”  kataku mewakili teman temen.
“Oh iya, ati-ati Nia.. obore aja kelalen digawa”6)
“Inggihpak.. bu... ”
Dipertigaan jalan aku berpisah dengan Surti, Sukinah dan Juned. Arah rumahku dari pertigaan jalan ini ke kanan, sedangkan Surti,Sukinah dan Juned ke kiri.Aku berjalan menelusuri malam, terkadang kepalaku mendongak ke langit, terbesit dalam pikiranku
“Kenangapa ya jerene negara Indonesia kuwe sugih, tapi deneng desaku urung ana lampu. Saben dina kudu gawe obor. Tapi apa kabehan wilayah Indonesia kaya kuwe. Tapi jerene ramane karo biyunge, neng kota tok sing apik ana lampu pirang-pirang, ana lampu neon, lampu warna-warni. Jane sih aku mandan iri karo wong-wong sing wis kepenak. Ora kaya neng desaku kiye. Tapi kepriwe maning, pak lurah wis tau ngajukna maring bapak bupati, terus bapak bupati wis ngendika neng pemerintah dhuwur presiden tapi tekan sikidurung ana perubahan. Pokoke enyong janji, enyong arep nggawe desane nyong maju, wis ana lampu. Dongakna ya bapake biyunge.”
Mengapa di Indonesia yang katanya negara  kaya tapi masih ada  desa yang  dalam kegelapan termasuk desaku yang  belum diterangi lampu dan masih menggantungkan pada nyala obor. Sementara di kota pendar lampu  terlihat gemerlap dan berkilau warna warni dan hidup. Kesenjangan perhatian pembangunan kota dan desa benar-benar terasa.
Tak terasa aku sudah sampai didepan bangunan yang kusebut rumah. Sebenarnya bangunan ini tak pantas disebut rumah, lebih pantas disebut gubuk. Ya, disini keluargaku tinggal. Aku, ayah,ibu dan seorang adik. Setiap hari tempat yang berada dihadapanku ini adalah tempat segala cerita. Mulai dari cerita senang, hingga sedih.
Aku dengan gontai masuk kedalam rumah lalu menuju ke kamar. Aku merebahkan badanku dikasur lantai, karena keluargaku tidak punya kasur yang apik. Bola mataku tertuju pada langit-langit kamar yang hanya terbuat dari bambu dan seng. Pikiranku sedang melayang-layang ke negeri khayalan, bola mataku masih enggan untuk menutup, seketika itu hatiku berbicara “kowe kudu bisa”7) dan langsung di tangkap oleh otakku melalui aliran darah.
Pagi yang cerah, mentari sudah tersenyum menyapa pagiku. Suara kokokan ayam yang merdu membangunkan pagi ini. Mimpi-mimpiku tadi malam telah pudar seolah ditelan bumi. Pagi ini ayahku sedang bersiap-siap menuju sawah, ayah menggarap lahan sawah yang bukan miliknya, ia hanya bekerja sebagai penggarap. Sedangkan ibu, berangkat kerja sekitar pukul sembilan pagi nanti.
Pagi ini sarapan telah siap di meja makan, dengan setengah sadar kupakai sandal butut milikku menuju dapur, menu sarapanku adalah nasi, sambel terasi dan kerupuk serta ditemani teh tawar hangat. Sebelum makan aku bergegas mandi. Aku masuk kamar mandi yang letaknya dibelakang rumahku.Brrrrr... dingin sekali. Air dipedesaan memang seperti air es batu. Gigiku bergemeretak tak kuasa menahan dinginnya air, badanku menggigil dan kupercepat mandiku.Hari ini aku mempunyai janji dengan teman-temanku untuk mencari ikan di sungai. Setelah mandi pagi, aku bergegas menuju meja makan untuk sarapan.Sarapan pagi hari ini ku makan dengan lahap. Ibu yang duduk di sebelahku hanya bisa terdiam melihat tingkah laku aku saat sarapan.
“Bu,kula kalih kanca-kanca bade mancing iwak teng lepen”8)
Oya wis nganah, ati-ati ya9)
Saat itu terdengar suara dari depan rumah. “Nia... Nia.. ,  temanku memanggil aku untuk menjemputku pergi ke sungai.
“Ibu kula pamit nggih”10) sambil mencium tangan ibuku
Sepanjang perjalanan kami bertukar cerita tentang banyak hal, Surti sahabatku mengatakan sesuatu yang penting . Kami memang sebagai anak desa sudah biasa berjalan kaki, hitung-hitung sambil cuci mata melihat pemandangan
“Ni, kowe mbok jerene arep dadi penulis, wingi aku di critani biyunge jere neng umahe pak Diro tukang kepul barang bekas kae ana mesin ketik bekas tapi esih apik, regane sewidak ewu.”11)
“Oh ya?...  Sing bener ?”
Ya, jajal mengko parani  nggone pak Diro. Jerene bisa dicicil bayare”12)
Ya wis mengko nganah ya”13)
Tak terasa kami telah sampai di sungai yang kami anggap sebagai kolam renang. Hanya Juned yang berenang, Aku putuskan untuk mencari ikan saja. Siapa tahu dapat ikan untuk makan nanti, kan lumayan. Kami mengangkap ikan hanya dengan tangan kosong saja, cara tradisional turun temurun yang kami selalu lakukan untuk menangkap ikan, awalnya memang sulit bagi kami, tetapi lama kelamaan kami mahir dalam menangkap ikan.
Tak terasa matahari sudah berada diatas kepala, aku dan ketiga sahabatku pergi ke tempat pengepul barang bekas, rumah Pak Diro. Jarak dari sungai ke rumah Pak Diro sekitar lima belas menit, dan kami tempuh dengan berjalan kaki, seperti biasa untuk menghilangkan rasa lelah kami, ceritapun menjadi solusi terbaik. Tak terasakami sudah sampai di rumah Pak Diro
“Assalamualaikum pak Diro..” teriak kami
“Wa’alaikumsalam”
“Pak apa ada mesin ketik yang mau dijual?”
“Oh ya benar Ni....”
“Berapa harganya Pak”
“Sewidak ewu”14)
“lha.. kok mahal... boleh kurang nggak pak?”
“Buat kamu apa Ni.. ?”
“Ya Pak.. saya butuh mesin tik untuk membantu menulis karangan.  Kalau boleh saya ingin membeli tapi bayarnya ngak sekarang ya...  uang saya belum cukup”
“Ya sudah.. bapak kasih ke kamu harga lima puluh ribu ”
“ya matur nuwun pak”15)
Setelah itu kami berpamitan kepada pak Diro. Aku dan sahabat-sahabatku pulang ke rumah masing-masing.Semenjak hari itu di rumah pak Diro, aku mencoba mencari pekerjaan di desa agar aku bisa membeli mesin ketik. Aku ceritakan keinginanku kepada ibu, dan kebetulan Bu Kades membutuhkan rewang untuk membersihkan rumah. Keesokan harinya aku pergi ketempat yang dimaksud ibu, Bu Anjar adalah ibu kades ku. Aku bekerja di rumah Ibu Kades sebagai rewang dari pagi hari hingga sore menjelang malam. Kerjaanku dari mulai ngepel, nyapu, cuci piring, cuci baju dan bersih-bersih rumah. Ini semua aku lakukan hanya demi dapat membeli mesin ketik.
Satu  bulan lamanya aku bekerja dirumah ibu kades. Selama itu sudah banyak tenaga, keringat yang aku keluarkan, dan usahaku tak sia-sia.Berkat kerja keras aku bekerja , gaji ku bisa untuk beli mesin ketik dan masih ada sisa, sisa separuh aku tabung dan separuhnya lagi aku berikan kepada orang tuaku. Sepulang dari rumah Ibu Anjar, dengan gembira aku langsung menuju rumah Pak Diro untuk membeli mesin ketik.
“Assalamualaikum.. Pak Diro..”
“Wa’alaikumsalam, ya  sebentar... eh Nia..”
“Pak Diro, nuwunsewu... saya datang ke Bapak untuk memenuhi janji saya membayar mesin tik yang kemarin kita bicarakan”
“Oh ya,... sedhela16) sayaambil ”... Pak Diro bergegas masuk ke dalam rumah
“ Ini mesin ketiknya. Masih bagus lho.. dicoba dulu..”
“Ya pak... saya percaya kok... nggak usah dicoba...”
“Ya sudah kalau begitu... ini saya beri bonus kertas seratus lembar. Semoga bisa bermanfaat dan mendukung cita-citamu sebagai penulis.”
“Aamiin... matur nuwun.. saya langsung pamit Pak Diro”
“Ya .. hati-hati ya..”
Lalu aku pulang ke rumah sambil membawa mesin ketik yang baru saja ku beli dari hasil keringatku sendiri. Sepanjang jalan menuju rumah, aku dekap mesin ketiku, dengan senang hati , aku bawa dengan hati-hati.n Sesampainya di rumah, aku letakkan mesin ketiku di atas meja reot dengan cat yang memudar yang menambah kesan tua. Mesin ketik ini memang tidak menggunakan listrik untuk menyalakannya.Aku senang sekali!Mesin ketik itu lalu aku beri nama Cahaya
Cahaya, aku akan merawatmu. Denganmu aku akan menjadikan desa ini maju seperti janjiku dulu.. dan sekarang waktuku untuk menepatinya.
Cahaya, aku simpan di kamar. Semenjak kehadiran cahaya, intensitas menulisku jadi lebih sering. Sering aku mengetik cerpen juga puisi. Awalnya aku ragu, takut  hasilnya jelek, tetapi orang tuaku selalu mendukungku mereka memberi dukungan sepenuhnya untuk aku. Mereka berharap aku bisa membanggakan negaraku, seperti namaku Indonesia.
Suatu hari, tetanggaku memberitahuku tentang lomba kepenulisan se- Kabupaten, dan Pak Kades memilih aku untuk mewakili desa dalam lomba tersebut. Puji syukur Alhamdulillah, aku bisa memenangkan lomba di tingkat Kabupaten dan terpilih untuk mewakili Kabupaten di tingkat Provinsi, bahkan kemenangan yang aku raih  sampai tingkat Nasional mengalahkan peserta dari provinsi-provinsi lain se Indonesia. Kemenanganku ini mengantarkan aku untuk dapat bertemu dengan Bapak Presiden dan mendapatkan hadiah-hadiah yang tidak aku duga.
Luar biasa!, batinku
Tak ku sia-siakan pertemuanku dengan bapak presiden, aku bercerita tentang desaku ketika bapak presiden bertanya tentang desaku.Aku bercerita bahwa aku hanya seorang gadis miskin, yang bertempat tinggal di pelosok Kabupaten Banyumas, desa yang sulit dijangkau, desa yang belum ada penerangan, desa yang indah dan bla bla bla.., aku ceritakan semua.
Dan ketika aku pulang ke kampung setelah mendapat kemenangan itu, pandanganku haru. Ketika melewati jalan batas desa aku terkejut dengan spanduk di depan desa dengan gambar wajahku dan  bertuliskan :
SELAMAT DATANG PAHLAWAN DESA KAMI, INDONESIA!!!
Aku menangis bahagia, warga desa lalu berkumpul di perbatasan desa, Aku lalu memeluk kedua orang tuaku. Cita-cita ku sekarang telah terwujud, harapan orang tua memberi nama aku INDONESIA sekarang telah terwujud, dan satu lagi..Desaku sekarang sudah ada lampu, sudah ada penerang. Warga tak perlu repot-repot membuat obor. Akhirnya cita-citaku terkabulkan, dan aku berjanji aku akan menjadi Indonesia yang seperti dulu, bersahabat dengan Surti,Juned, Sukinah. Aku akan menjadi diriku sendiri.
Aku, Indonesia akan terus menjadi seorang penulis yang membanggakan Ibu pertiwi dengan karya-karyaku. Dan, mesin ketiku, Cahaya. Terimakasih banyak.









CATATAN

1)        Paijo, tolong itu dipindah ke sana...
2)        Ya Pak
3)        Eh.. Nia.. baru datang..sini bantu menyalakan obor.. kamu ambil minyak dan korek dulu minta Bu Heri..
4)        Ayo.. semua kerja biar cepat selesai
5)        Maaf
6)        Jangan lupa obornya dibawa
7)        Kamu harus bisa
8)        Saya dengan teman-teman akan mancing ikan di sungai
9)        Ya.. hati-hati..
10)    Bu, saya berangkat..
11)    Ni, kamu katanya mau jadi penulis. Kemarin aku diberi tahu sama ibu kalau di rumah Pak Diro Pengepul barang bekas ada mesin ketik bekas yang masih bagus, harganya enam puluh ribu..
12)    Ya .. coba nanti kita kesana.. katanya bisa dicicil pembayarannya
13)    Ya udah.. nanti kita kesana ya..
14)    Enam puluh ribu
15)    Ya, terima kasih Pak..
16)    Sebentar