TINTA UNTUK INDONESIA
Indonesia Nurul Azmi adalah
nama panjangku. Kata warga Watuagung – desa tempat aku lahir dan dibesarkan di
Banyumas- namaku aneh, aku satu-satunya orang yang bernama sama dengan nama
republik dan tanah air tercinta.
Aku adalah seorang
gadis yang sederhana, hidupku jauh dari kata mewah. Ayahku hanyalah seorang
petani yang pekerja keras, ayah bekerja sejak matahari tersenyum menghangatkan
bumi hingga matahari tertidur. Ibuku, hanya seorang buruh cuci. Aku dilahirkan
lima belas tahun yang lalu.
Malam ini seperti
kebiasaan didesaku, warga berkumpul di balai desa untuk bergotong royong membuat obor yang merupakan
sahabat terbaik kami disaat bulan enggan tersenyum, bintang yang tertidur hanya
langit yang diselimuti awan gelap menemani. Ditemani angin malam berhembus
kencang, kurapatkan jaketku, kutelusuri desa bersama teman-teman menuju balai
desa. Angin malam saat ini sedang tidak bersahabat denganku. Beberapa kali
keluarga batuk yang berada ditubuhku keluar, kupaksa tubuhku berjalan walaupun
angin akan merasuki tubuhku.
Ketika kami telah
sampai dibalai desa, suara warga sedang
bekerjasama untuk membuat obor terdengar ramai sekali. Gergaji berteriak, bambupun
menangis histeris.
“Paijo,
tulung kuwe de angkatna maring nganah”1)teriak
Pak Budi, sang Kepala Desa. “Inggih Pak”2)
sahut yang dipanggil Paijo.
“Eh
Nia, nembe teka... ngeneh ngrewangi nyumed obor,
kowe njukut lenga karo korek disit, njaluk Bu Heri nganah”3)
Sapa Pak Danu ketika melihat aku dan teman-teman datang .“Ayuh kabehan pada kerja, ben cepet rampung”4)
“Siap pak” teriak beberapa warga.
Aku dan teman-teman
memang ditugaskan untuk mencoba menyalakan obor, terkadang obor yang sudah
bagus tetapi tidak bisa nyala. Itu tugas kami untuk mencoba menyalakannya agar
ketika digunakan, bisa aman.
Ketika jam balai desa
menunjukan pukul 23.00 WIB aku dan teman-teman berpamitan pulang terlebih
dahulu.
“Pak... bu.. nuwun sewu5) kami pulang duluan” kataku mewakili teman temen.
“Oh iya, ati-ati Nia.. obore aja kelalen digawa”6)
“Inggihpak..
bu... ”
Dipertigaan jalan aku
berpisah dengan Surti, Sukinah dan Juned. Arah rumahku dari pertigaan jalan ini
ke kanan, sedangkan Surti,Sukinah dan Juned ke kiri.Aku berjalan menelusuri
malam, terkadang kepalaku mendongak ke langit, terbesit dalam pikiranku
“Kenangapa
ya jerene negara Indonesia kuwe sugih, tapi deneng desaku urung ana lampu.
Saben dina kudu gawe obor. Tapi apa kabehan wilayah Indonesia kaya kuwe. Tapi
jerene ramane karo biyunge, neng kota tok sing apik ana lampu pirang-pirang, ana
lampu neon, lampu warna-warni. Jane sih aku mandan iri karo wong-wong sing wis
kepenak. Ora kaya neng desaku kiye. Tapi kepriwe maning, pak lurah wis tau
ngajukna maring bapak bupati, terus bapak bupati wis ngendika neng pemerintah
dhuwur presiden tapi tekan sikidurung ana perubahan. Pokoke enyong janji, enyong
arep nggawe desane nyong maju, wis ana lampu. Dongakna ya bapake biyunge.”
Mengapa di Indonesia
yang katanya negara kaya tapi masih ada desa yang dalam kegelapan termasuk desaku yang belum diterangi lampu dan masih
menggantungkan pada nyala obor. Sementara di kota pendar lampu terlihat gemerlap dan berkilau warna warni
dan hidup. Kesenjangan perhatian pembangunan kota dan desa benar-benar terasa.
Tak terasa aku sudah
sampai didepan bangunan yang kusebut rumah. Sebenarnya bangunan ini tak pantas
disebut rumah, lebih pantas disebut gubuk. Ya, disini keluargaku tinggal. Aku,
ayah,ibu dan seorang adik. Setiap hari tempat yang berada dihadapanku ini adalah
tempat segala cerita. Mulai dari cerita senang, hingga sedih.
Aku dengan gontai masuk
kedalam rumah lalu menuju ke kamar. Aku merebahkan badanku dikasur lantai,
karena keluargaku tidak punya kasur yang apik.
Bola mataku tertuju pada langit-langit kamar yang hanya terbuat dari bambu dan
seng. Pikiranku sedang melayang-layang ke negeri khayalan, bola mataku masih
enggan untuk menutup, seketika itu hatiku berbicara “kowe kudu bisa”7) dan langsung di tangkap oleh otakku
melalui aliran darah.
Pagi yang cerah, mentari
sudah tersenyum menyapa pagiku. Suara kokokan ayam yang merdu membangunkan pagi
ini. Mimpi-mimpiku tadi malam telah pudar seolah ditelan bumi. Pagi ini ayahku
sedang bersiap-siap menuju sawah, ayah menggarap lahan sawah yang bukan
miliknya, ia hanya bekerja sebagai penggarap. Sedangkan ibu, berangkat kerja
sekitar pukul sembilan pagi nanti.
Pagi ini sarapan telah
siap di meja makan, dengan setengah sadar kupakai sandal butut milikku menuju
dapur, menu sarapanku adalah nasi, sambel terasi dan kerupuk serta ditemani teh
tawar hangat. Sebelum makan aku bergegas mandi. Aku masuk kamar mandi yang
letaknya dibelakang rumahku.Brrrrr... dingin sekali. Air dipedesaan memang
seperti air es batu. Gigiku bergemeretak tak kuasa menahan dinginnya air, badanku
menggigil dan kupercepat mandiku.Hari ini aku mempunyai janji dengan
teman-temanku untuk mencari ikan di sungai. Setelah mandi pagi, aku bergegas menuju
meja makan untuk sarapan.Sarapan pagi hari ini ku makan dengan lahap. Ibu yang
duduk di sebelahku hanya bisa terdiam melihat tingkah laku aku saat sarapan.
“Bu,kula
kalih kanca-kanca bade mancing iwak teng lepen”8)
“Oya
wis nganah, ati-ati ya”9)
Saat itu terdengar suara dari depan
rumah. “Nia... Nia.. , temanku memanggil
aku untuk menjemputku pergi ke sungai.
“Ibu
kula pamit nggih”10)
sambil mencium tangan ibuku
Sepanjang perjalanan
kami bertukar cerita tentang banyak hal, Surti sahabatku mengatakan sesuatu
yang penting . Kami memang sebagai anak desa sudah biasa berjalan kaki,
hitung-hitung sambil cuci mata melihat pemandangan
“Ni,
kowe mbok jerene arep dadi penulis, wingi aku di critani biyunge jere neng
umahe pak Diro tukang kepul barang bekas kae ana mesin ketik bekas tapi esih
apik, regane sewidak ewu.”11)
“Oh ya?... Sing bener ?”
“Ya,
jajal mengko parani nggone pak Diro.
Jerene bisa dicicil bayare”12)
“Ya
wis mengko nganah ya”13)
Tak terasa kami telah
sampai di sungai yang kami anggap sebagai kolam renang. Hanya Juned yang
berenang, Aku putuskan untuk mencari ikan saja. Siapa tahu dapat ikan untuk
makan nanti, kan lumayan. Kami
mengangkap ikan hanya dengan tangan kosong saja, cara tradisional turun temurun
yang kami selalu lakukan untuk menangkap ikan, awalnya memang sulit bagi kami,
tetapi lama kelamaan kami mahir dalam menangkap ikan.
Tak terasa matahari
sudah berada diatas kepala, aku dan ketiga sahabatku pergi ke tempat pengepul
barang bekas, rumah Pak Diro. Jarak dari sungai ke rumah Pak Diro sekitar lima
belas menit, dan kami tempuh dengan berjalan kaki, seperti biasa untuk
menghilangkan rasa lelah kami, ceritapun menjadi solusi terbaik. Tak terasakami
sudah sampai di rumah Pak Diro
“Assalamualaikum pak Diro..” teriak kami
“Wa’alaikumsalam”
“Pak apa ada mesin ketik yang mau dijual?”
“Oh ya benar Ni....”
“Berapa harganya Pak”
“Sewidak
ewu”14)
“lha.. kok mahal... boleh kurang nggak
pak?”
“Buat kamu apa Ni.. ?”
“Ya Pak.. saya butuh mesin tik untuk
membantu menulis karangan. Kalau boleh
saya ingin membeli tapi bayarnya ngak sekarang ya... uang saya belum cukup”
“Ya sudah.. bapak kasih ke kamu harga
lima puluh ribu ”
“ya
matur nuwun pak”15)
Setelah itu kami
berpamitan kepada pak Diro. Aku dan sahabat-sahabatku pulang ke rumah
masing-masing.Semenjak hari itu di rumah pak Diro, aku mencoba mencari
pekerjaan di desa agar aku bisa membeli mesin ketik. Aku ceritakan keinginanku
kepada ibu, dan kebetulan Bu Kades membutuhkan rewang untuk membersihkan rumah. Keesokan harinya aku pergi ketempat
yang dimaksud ibu, Bu Anjar adalah ibu kades ku. Aku bekerja di rumah Ibu Kades
sebagai rewang dari pagi hari hingga sore menjelang malam. Kerjaanku dari mulai
ngepel, nyapu, cuci piring, cuci baju dan bersih-bersih rumah. Ini semua
aku lakukan hanya demi dapat membeli mesin ketik.
Satu bulan lamanya aku bekerja dirumah ibu kades.
Selama itu sudah banyak tenaga, keringat yang aku keluarkan, dan usahaku tak
sia-sia.Berkat kerja keras aku bekerja , gaji ku bisa untuk beli mesin ketik
dan masih ada sisa, sisa separuh aku tabung dan separuhnya lagi aku berikan
kepada orang tuaku. Sepulang dari rumah Ibu Anjar, dengan gembira aku langsung menuju
rumah Pak Diro untuk membeli mesin ketik.
“Assalamualaikum.. Pak Diro..”
“Wa’alaikumsalam, ya sebentar... eh Nia..”
“Pak Diro, nuwunsewu... saya datang ke
Bapak untuk memenuhi janji saya membayar mesin tik yang kemarin kita bicarakan”
“Oh ya,... sedhela16) sayaambil ”... Pak Diro bergegas masuk ke
dalam rumah
“ Ini mesin ketiknya. Masih bagus lho..
dicoba dulu..”
“Ya pak... saya percaya kok... nggak usah
dicoba...”
“Ya sudah kalau begitu... ini saya beri
bonus kertas seratus lembar. Semoga bisa bermanfaat dan mendukung cita-citamu
sebagai penulis.”
“Aamiin... matur nuwun.. saya langsung
pamit Pak Diro”
“Ya .. hati-hati ya..”
Lalu aku pulang ke
rumah sambil membawa mesin ketik yang baru saja ku beli dari hasil keringatku
sendiri. Sepanjang jalan menuju rumah, aku dekap mesin ketiku, dengan senang
hati , aku bawa dengan hati-hati.n Sesampainya di rumah, aku letakkan mesin
ketiku di atas meja reot dengan cat yang memudar yang menambah kesan tua. Mesin
ketik ini memang tidak menggunakan listrik untuk menyalakannya.Aku senang
sekali!Mesin ketik itu lalu aku beri nama Cahaya
Cahaya,
aku akan merawatmu. Denganmu aku akan menjadikan desa ini maju seperti janjiku
dulu.. dan sekarang waktuku untuk menepatinya.
Cahaya, aku simpan di
kamar. Semenjak kehadiran cahaya, intensitas menulisku jadi lebih sering. Sering
aku mengetik cerpen juga puisi. Awalnya aku ragu, takut hasilnya jelek, tetapi orang tuaku selalu mendukungku
mereka memberi dukungan sepenuhnya untuk aku. Mereka berharap aku bisa
membanggakan negaraku, seperti namaku Indonesia.
Suatu hari, tetanggaku
memberitahuku tentang lomba kepenulisan se- Kabupaten, dan Pak Kades memilih aku
untuk mewakili desa dalam lomba tersebut. Puji syukur Alhamdulillah, aku bisa
memenangkan lomba di tingkat Kabupaten dan terpilih untuk mewakili Kabupaten di
tingkat Provinsi, bahkan kemenangan yang aku raih sampai tingkat Nasional mengalahkan peserta
dari provinsi-provinsi lain se Indonesia. Kemenanganku ini mengantarkan aku
untuk dapat bertemu dengan Bapak Presiden dan mendapatkan hadiah-hadiah yang
tidak aku duga.
Luar biasa!, batinku
Tak ku sia-siakan
pertemuanku dengan bapak presiden, aku bercerita tentang desaku ketika bapak
presiden bertanya tentang desaku.Aku bercerita bahwa aku hanya seorang gadis
miskin, yang bertempat tinggal di pelosok Kabupaten Banyumas, desa yang sulit
dijangkau, desa yang belum ada penerangan, desa yang indah dan bla bla bla..,
aku ceritakan semua.
Dan ketika aku pulang
ke kampung setelah mendapat kemenangan itu, pandanganku haru. Ketika melewati
jalan batas desa aku terkejut dengan spanduk di depan desa dengan gambar
wajahku dan bertuliskan :
SELAMAT
DATANG PAHLAWAN DESA KAMI, INDONESIA!!!
Aku menangis bahagia,
warga desa lalu berkumpul di perbatasan desa, Aku lalu memeluk kedua orang
tuaku. Cita-cita ku sekarang telah terwujud, harapan orang tua memberi nama aku
INDONESIA sekarang telah terwujud, dan satu lagi..Desaku sekarang sudah ada
lampu, sudah ada penerang. Warga tak perlu repot-repot membuat obor. Akhirnya
cita-citaku terkabulkan, dan aku berjanji aku akan menjadi Indonesia yang seperti
dulu, bersahabat dengan Surti,Juned, Sukinah. Aku akan menjadi diriku sendiri.
Aku, Indonesia akan terus
menjadi seorang penulis yang membanggakan Ibu pertiwi dengan karya-karyaku.
Dan, mesin ketiku, Cahaya. Terimakasih banyak.
CATATAN