WELCOME
OKTAVIA NURAINI WIDYASARI
MAN PURWOKERTO 1
SEMOGA SUKSES
SEMANGAT

Rabu, 18 Mei 2016

Cerpen, tema : Bahaya Merokok

Evan

Di bawah matahari pukul satu siang, Evan berjalan menyusuri jalanan tikus yang setiap saat ia lewati sepulang sekolah. Anak lelaki itu sesekali memandang matahari yang menyilaukan mata. Tubuhnya sedari tadi telah dibasahi oleh air keringatnya, sesekali ia mengusap dahinya yang berkeringat. Kerongkongannya sudah tidak tahan lagi, air minum yang dibawanya dari rumah tadi sudah habis. Bocah laki-laki itu kali ini tidak seberuntung hari-hari kemarin. Kadang kala, saat matahari menyengat kulitnya, tukang es di jalan tikus itu menjamur, Evan bisa leluasa untuk membelinya. Namun, keberuntungan kali ini tidak berpihak kepadanya.
Langkah kakinya menyusuri jalan tikus itu kian dipercepatnya. Rasanya ia ingin cepat kembali ke rumahnya, bayangan air minum di kulkas telah mengusik pikiran. Evan menelan ludah. Tak selang berapa lama, kedua kakinya saat ini telah menapak di dalam sebuah rumah, rumah orang tua Evan tentunya. Dilepaskannya sepatu beserta kaos kaki yang ia kenakan. Evan berlari ke arah dapur, dan di tenggaknya satu botol air mineral dingin.
Kekosongan rumah saat itu ia hiraukan, ia hanya berpikir tentang tenggorokannya yang sudah berdemo sedari tadi. Setelah menegak satu botol air mineral, Evan kembali ke kamarnya. Direbahkanlah tubuhnya.
Satu jam... Dua jam... hingga tiga jam berlalu mata Evan belum terbuka, ia masih hanyut dalam bunga tidurnya. Lima menit kemudian, suara berisik membangunkannya. Telinganya tadi mendengar percakapan tiga lelaki dan disertai tawa yang menggelegar hingga frekuensinya terdengar sampai ke telinga Evan. Evan membuka mata. Dibukanya pintu kamar, asap-asap rokok sudah menyelimuti area depan pintu kamar. Evan terbatuk. Evan berusaha mengusir asap-asap itu pergi, asap-asap itu menghalangi jalan. Evan ingin melihat siapakah yang merokok hingga asapnya sampai di depan pintu kamarnya. Jikalau ada tamu, sudah pasti berada di ruang tamu, dan jarak ruang tamu dengan kamar tidur Evan cukup jauh. Melewati empat kamar tidur, satu ruang makan, baru sampai di kamar tidurnya.
Evan mendekati arah suara laki-laki yang sedang bercakap-cakap itu, suara tawa kian memekak telinganya. Ternyata setelah diselidiki dilihatnya Ayah Evan bersama dua orang tamunya. “Eh van, sudah bangun kau rupanya?” logat batak ayahnya terlihat jelas. Evan tersenyum simpul. “Perkenalkan ini bang Ali dan satunya lagi Pak mukhlis. Dia rekan kerja ayah.” Evan memandangi tamu ayahnya, dahinya berkerut. Evan tak suka melihat pemandangan seperti ini. Rumahnya kini tertutup oleh asap rokok. Hanya seulas senyum ia keluarkan untuk kedua rekan ayahnya. “Evan masuk dulu yah.”jawab Evan.
Evan lalu kembali ke kamarnya, dadanya sesak. Iya, bocah laki-laki itu memiliki seorang ayah yang sangat aktif merokok, bukan hanya ayahnya saja, namun lingkungan sekitar tempat tinggalnya sebagian perokok aktif, dan sebagian besarnya adalah perokok pasif. Bukan seperti ini hidup yang Evan inginkan.
Lingkungan tempat tinggalnya saat ini banyak yang menjadi perokok. Dalam pelajaran di sekolah, Evan diajarkan tentang bahaya merokok. Evan tahu persis, bukan perokok aktif yang kemungkinan hidupnya sedikit karena paru-parunya hancur oleh asap rokok. Tapi sebaliknya, perokok pasif-lah yang menjadi korban, bahkan bisa di bilang korban terparah. Ini bukan siapa yang menghisap, tapi ini masalah efek asap yang dikeluarkan oleh penghisap dan menular oleh orang yang tidak menghisap. Satu banding seribu bila dibandingkan.
Evan bukanlah seorang perokok aktif, seperti ayahnya dan orang-orang lingkungan sekitar rumahnya. Evan bukanlah tipikal orang yang mudah tergiur dan polos. Ia sering ditawari rokok, namun menolaknya, karena Evan takut seperti tetangganya.
Satu minggu yang lalu, tetangganya yang masih seumuran, meninggal dunia. Dokter memvonisnya mengidap kanker paru-paru, namanya Andre. Dia bukan perokok, sama seperti Evan. Namun, Andre, juga menghirup udara yang sama seperti Evan. Udara yang dipenuhi oleh asap-asap nakal.
Kata ayahnya “Bukan anak laki kalau ia tidak suka rokok.” Evan tak sependapat dengan ayahnya, menurutnya “Anak laki-laki yang tidak merokok itu baru namanya laki-laki sejati. Laki-laki sejati adalah laki-laki yang bisa menjaga kesehatannya.” begitu katanya.
Evan pernah dikucilkan oleh laki-laki seumuran di lingkungan tempat tinggalnya, karena ia tidak mau merokok seperti mereka. Evan tak ambil pusing soal itu, yang terpenting bukan “jantan” atau tidaknya, tapi kesehatanlah yang utama.
Sampai saat ini, Evan masih kekeh dengan pendiriannya, dia menolak saat siapapun menawarkan rokok kepadanya. Evan yang sayang dengan dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar