Evan
Di bawah matahari
pukul satu siang, Evan berjalan menyusuri jalanan tikus yang setiap
saat ia lewati sepulang sekolah. Anak lelaki itu sesekali memandang
matahari yang menyilaukan mata. Tubuhnya sedari tadi telah dibasahi
oleh air keringatnya, sesekali ia mengusap dahinya yang berkeringat.
Kerongkongannya sudah tidak tahan lagi, air minum yang dibawanya dari
rumah tadi sudah habis. Bocah laki-laki itu kali ini tidak
seberuntung hari-hari kemarin. Kadang kala, saat matahari menyengat
kulitnya, tukang es di jalan tikus itu menjamur, Evan bisa leluasa
untuk membelinya. Namun, keberuntungan kali ini tidak berpihak
kepadanya.
Langkah kakinya
menyusuri jalan tikus itu kian dipercepatnya. Rasanya ia ingin cepat
kembali ke rumahnya, bayangan air minum di kulkas telah mengusik
pikiran. Evan menelan ludah. Tak selang berapa lama, kedua kakinya
saat ini telah menapak di dalam sebuah rumah, rumah orang tua Evan
tentunya. Dilepaskannya sepatu beserta kaos kaki yang ia kenakan.
Evan berlari ke arah dapur, dan di tenggaknya satu botol air mineral
dingin.
Kekosongan rumah
saat itu ia hiraukan, ia hanya berpikir tentang tenggorokannya yang
sudah berdemo sedari tadi. Setelah menegak satu botol air mineral,
Evan kembali ke kamarnya. Direbahkanlah tubuhnya.
Satu jam... Dua
jam... hingga tiga jam berlalu mata Evan belum terbuka, ia masih
hanyut dalam bunga tidurnya. Lima menit kemudian, suara berisik
membangunkannya. Telinganya tadi mendengar percakapan tiga lelaki dan
disertai tawa yang menggelegar hingga frekuensinya terdengar sampai
ke telinga Evan. Evan membuka mata. Dibukanya pintu kamar, asap-asap
rokok sudah menyelimuti area depan pintu kamar. Evan terbatuk. Evan
berusaha mengusir asap-asap itu pergi, asap-asap itu menghalangi
jalan. Evan ingin melihat siapakah yang merokok hingga asapnya sampai
di depan pintu kamarnya. Jikalau ada tamu, sudah pasti berada di
ruang tamu, dan jarak ruang tamu dengan kamar tidur Evan cukup jauh.
Melewati empat kamar tidur, satu ruang makan, baru sampai di kamar
tidurnya.
Evan mendekati arah
suara laki-laki yang sedang bercakap-cakap itu, suara tawa kian
memekak telinganya. Ternyata setelah diselidiki dilihatnya Ayah Evan
bersama dua orang tamunya. “Eh van, sudah bangun kau rupanya?”
logat batak ayahnya terlihat jelas. Evan tersenyum simpul.
“Perkenalkan ini bang Ali dan satunya lagi Pak mukhlis. Dia rekan
kerja ayah.” Evan memandangi tamu ayahnya, dahinya berkerut. Evan
tak suka melihat pemandangan seperti ini. Rumahnya kini tertutup oleh
asap rokok. Hanya seulas senyum ia keluarkan untuk kedua rekan
ayahnya. “Evan masuk dulu yah.”jawab Evan.
Evan lalu kembali ke
kamarnya, dadanya sesak. Iya, bocah laki-laki itu memiliki seorang
ayah yang sangat aktif merokok, bukan hanya ayahnya saja, namun
lingkungan sekitar tempat tinggalnya sebagian perokok aktif, dan
sebagian besarnya adalah perokok pasif. Bukan seperti ini hidup yang
Evan inginkan.
Lingkungan tempat
tinggalnya saat ini banyak yang menjadi perokok. Dalam pelajaran di
sekolah, Evan diajarkan tentang bahaya merokok. Evan tahu persis,
bukan perokok aktif yang kemungkinan hidupnya sedikit karena
paru-parunya hancur oleh asap rokok. Tapi sebaliknya, perokok
pasif-lah yang menjadi korban, bahkan bisa di bilang korban terparah.
Ini bukan siapa yang menghisap, tapi ini masalah efek asap yang
dikeluarkan oleh penghisap dan menular oleh orang yang tidak
menghisap. Satu banding seribu bila dibandingkan.
Evan bukanlah
seorang perokok aktif, seperti ayahnya dan orang-orang lingkungan
sekitar rumahnya. Evan bukanlah tipikal orang yang mudah tergiur dan
polos. Ia sering ditawari rokok, namun menolaknya, karena Evan takut
seperti tetangganya.
Satu minggu yang
lalu, tetangganya yang masih seumuran, meninggal dunia. Dokter
memvonisnya mengidap kanker paru-paru, namanya Andre. Dia bukan
perokok, sama seperti Evan. Namun, Andre, juga menghirup udara yang
sama seperti Evan. Udara yang dipenuhi oleh asap-asap nakal.
Kata ayahnya “Bukan
anak laki kalau ia tidak suka rokok.” Evan tak sependapat dengan
ayahnya, menurutnya “Anak laki-laki yang tidak merokok itu baru
namanya laki-laki sejati. Laki-laki sejati adalah laki-laki yang bisa
menjaga kesehatannya.” begitu katanya.
Evan pernah
dikucilkan oleh laki-laki seumuran di lingkungan tempat tinggalnya,
karena ia tidak mau merokok seperti mereka. Evan tak ambil pusing
soal itu, yang terpenting bukan “jantan” atau tidaknya, tapi
kesehatanlah yang utama.
Sampai saat ini,
Evan masih kekeh dengan pendiriannya, dia menolak saat siapapun
menawarkan rokok kepadanya. Evan yang sayang dengan dirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar